Selasar beton di samping kelas, menghadap ke barat, bentangan sawah di sebelah pagar. Pintu kelas terbuka setengah. Angin bertiup sepoi-sepoi. Anak-anak bergerombol, berbicara riuh-rendah. Tidak ada janji bertemu. Tidak ada percakapan luar biasa. Hanya sepenggal waktu menjelang siang. Saat bayangan pohon, jatuh dengan ukuran yang bagus. Sinus enam puluh derajat. Lalu perlahan menyusut. Apa percakapan terakhir kita? Mungkin tentang tugas sekolah, pompa air yang terlambat dinyalakan, hingga kita tak bisa mandi pagi, jemuran yang tak kunjung kering karena hujan, atau sekadar lelucon. Entahlah. Dan masa berlalu begitu saja. Rasanya, kita bahkan belum sempat mengucapkan selamat tinggal. Apa kabarnya anak itu? Yang kerap mendengarkan ceritaku. Teman tertawa meski tidak lucu. Saat jam-jam istirahat dulu. Di tempat yang mungkin akan kami singgahi lagi, bertahun-tahun kemudian. Mendapati perasaan sulit dijelaskan. Sebagian cerita tertinggal di sana. Aku bukan sepenuhnya kehilangan dia. Aku rindu aku waktu itu, yang merasa mampu melakukan apa saja, berani menantang dunia. Waktu itu dunia begitu sederhana. Hanya sebatas persamaan matematika. Kini, dunia menjadi jauh lebih luas, dan persoalan, tak selalu punya jawaban. Betapa kayanya kita dulu, kita punya waktu, tetapi tak tahu nilainya. Seandainya saja aku tahu, bahwa suatu hari nanti akan selelah ini, mungkin aku tidak akan buru-buru beranjak ketika bel berbunyi. Apa kabar anak itu sekarang? Semoga ia sehat dan bahagia punya seseorang berbagi bercerita. Semoga dia baik-baik saja. Kuharap harinya penuh berkat. Kulihat namanya di donasi sekolah. Dia masih punya ikatan, masih menjadi bagian. Dia tidak pergi terlalu jauh. Apakah kelak dia kembali? Andai tiba saat itu, Aku mungkin akan menyapa dulu. Menanyakan kabarnya. Dia yang dulu di samping kelas, tidak sepenuhnya ada lagi. Kita tak akan menemukan orang yang sama dua kali, bahkan dalam diri orang yang sama. Kita telah ditempa menjadi dua orang dewasa. Mungkin, setelah sekian lama, kita perlu berkenalan lagi.
