Si Bijeh Lade

Ini adalah cerita pendek tentang pertemanan dan teamwork. Zaman dahulu kala, ada seorang anak bernama Si Bijeh Lade (Si biji lada). Namanya demikian karena dia adalah anak yang badannya kecil. Jika zaman sekarang mungkin disebut stunting. Namun demikian, dia sangat shalih, santun, lincah, rajin dan punya banyak teman.

Suatu ketika, bijeh lade kelelahan bekerja membajak sawah. Ia tertidur pulas lepas Maghrib, sehingga lupa mengandangkan dua ekor sapinya. Sapi itu hilang dibawa pencuri saat malam hari. Hal itu membuat Bijeh Lade sangat sedih. Hari itu dengan tekad yang kuat, Bijeh lade memutuskan untuk pergi mencari sapinya.

Di jalan, si burung bangau menghampiri, mengabari bijeh lade bahwa ia melihat sapi-sapi dibawa orang ke arah tunong (ke gunung). Bijeh Lade berterimakasih kepada Bangau atas kabar itu. Bijeh lade terus berjalan, tak lama kemudian ia bertemu eungkot bacee (ikan gabus). Ikan bertanya bijeh lade hendak kemana dengan wajah bersedih begitu. Bijeh Lade menjelaskan kejadiannya. Ikan minta ikut untuk membantu bijeh lade. Mereka terus berjalan sampai ketemu manok meulot (ayam jago). Ayam bertanya kalian mau ke mana? Bijeh lade menjelaskan, ayam juga minta ikut. Selanjutnya ada si Taloo (tali) yang juga bergabung. Terakhir ada si Ek manok ciret (Kurleb: *ai ayam mencret) yang juga minta bergabung berniat membantu Bijeh Lade.

Malamnya, Bijeh Lade dkk berhasil menemukan sapinya. Di dalam geurepoh (gudang di bawah rumah panggung) rumah si pencuri. Bijeh Lade dkk sangat senang, mereka bersembunyi, mengatur strategi & beristirahat menunggu tengah malam dini hari. Bijeh lade menugaskan ayam masuk kamar pencuri, berdiri tepat di sebelah kepala peraduannya. Ikan masuk dalam guci, ek manok di atas tangga, si taloo di bawah.

Semuanya bersiap-siap, mengendap-endap menuju posisi masing-masing. Lalu menunggu aba-aba dari Bijeh Lade. Kemudian Bijeh Lade memberi tanda untuk beraksi. Kukukuu,,Kukukuu seperti suara burung hantu. Ayam jago mengepak dan berkokok sekuat tenaganya tepat di telinga pencuri, membuat pencuri terperanjat dan buru-buru ke guci hendak mencuci muka supaya hilang kantuknya dan dpt melihat dengan jelas apa yang terjadi. Saat hendak mengambil air, ikan gabus menusukkan durinya di tangan pencuri sampai ia berteriak. Pencuri mengaduh, meringis kesakitan dan memutuskan untuk turun ke sumur. Saat hendak turun, dia menginjak *ai ayam yang licin, sehingga terpeleset dan terjatuh dari tangga. Di bawah, si talo sdh bersiap-siap mengikat si pencuri.

Pencuri itu akhirnya tidak dapat melawan lagi karena tubuhnya telah terikat kuat oleh Si Taloo. Mendengar keributan tersebut, warga kampung datang membantu. Bijeh Lade pun segera membuka ikatan sapinya dan pulang bersama teman-temannya dengan hati lega dan gembira. Setelah mengetahui bahwa pencuri membawa dua ekor sapi milik Bijeh Lade, warga membawa pencuri untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya ke Balai Meunasah, di mahkamah Pak Geuchik dan para Tuha Peuet.

Sejak saat itu, Bijeh Lade semakin paham bahwa kebaikan, persahabatan, dan kerja sama dapat membantu menyelesaikan masalah yang berat. Walaupun tubuhnya kecil, ia tidak pernah menyerah dan selalu menghargai teman-temannya. Bangau, eungkot bacee, manok meulot, Si Taloo, dan ek manok ciret juga membuktikan bahwa setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda, tetapi jika saling membantu, mereka dapat mencapai tujuan bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *