Gila Macam Apa Dia (Kita)?

Berapa banyak orang yang pernah kita sebut gila?

Mungkin ada yang berjalan berkeliling kampung sambil menggerakkan tangan seperti sedang menyetir mobil (Dolah pempem). Ada yang berbicara sendiri di pinggir jalan (Yah Mulia). Ada yang meminta uang kepada setiap orang yang ditemuinya (Nek Si Oen). Ada pula yang memakai pakaian seadanya (Wak Lu), tertawa sendiri, meludah sambil menggumamkan caci yang tak dipahami (Kak Cut Cih Kah).

Mereka sering menjadi bahan cerita, bahan candaan, bahkan bahan ketakutan. Kita dengan mudahnya menyebut mereka gila, seolah satu kata itu sudah cukup untuk menjelaskan seluruh hidup yang mereka jalani. Padahal, di balik perilaku anehnya, mungkin ada kisah lama yang dipendam, kehilangan yang tak sempat disembuhkan, atau trauma yang tak pernah diceritakan.

Gangguan jiwa bukan bahan ejekan. Gila bukan kutukan, bukan aib, dan bukan alasan untuk mengurangi martabat seseorang. Orang yang sedang mengalami gangguan jiwa tetap manusia. Ia tetap memiliki masa lalu, harapan, keluarga, kenangan, ketakutan, dan kebutuhan untuk diperlakukan secara manusiawi.

Ada orang yang menjadi kacau karena terlalu lama hidup dalam kekerasan. Sejak kecil ia belajar bahwa rumah bukan tempat aman. Suara orang tua yang seharusnya menenangkan justru menjadi pukulan, bentakan, penghinaan, atau ketakutan yang terjadi berulang kali. Kemudian, suatu hari, ia kehilangan kendali.

Lalu dunia berkata bahwa ia sudah gila. Namun, tidak banyak yang bertanya berapa lama ia telah bertahan. Tidak banyak yang ingin melihat bahwa di balik satu tindakan yang mengerikan, mungkin ada tahun-tahun panjang ketika ia tidak tahu harus ke mana meminta pertolongan.

Ada pula orang yang dahulu menjalani hidup seperti kebanyakan orang. Ia bekerja, pulang, menyapa tetangga, mengurus keluarga, dan memiliki rencana untuk masa depan. Lalu datang satu kabar buruk. Sangat buruk, tak terbayangkan. Sampai ia tidak lagi mampu membedakan mana yang harus dipertahankan dan mana yang harus dilepaskan. Ia duduk di dekat tong sampah, membaca sobekan koran atau struk belanja dengan seksama. Barangkali bukan karena ia tidak mengerti kenyataan, melainkan karena di situlah ia menemukan cara untuk tetap bertahan. Ia sedang mencoba membangun dunia baru dari apa pun yang tersisa.

Tidak semua kegilaan tampak di jalanan.

Ada orang gila yang berdandan rapi setiap hari, berbicara santun, bekerja baik, dan tersenyum di hadapan banyak orang. Namun, saat pulang ke rumah, ia menangis sendirian. Ada yang terus bekerja sampai lupa makan dan tidur karena takut berhadapan dengan dirinya sendiri. Ada yang memuja cinta hingga kehilangan harga diri. Ada yang mengejar kekuasaan, uang, pujian, atau pengakuan sampai tidak lagi peduli siapa yang terluka di sekitarnya.

Mereka tampak waras karena kegelisahannya diterima oleh banyak orang.

Ambisi tanpa batas disebut kerja keras. Kelelahan yang dipaksakan disebut produktivitas. Mengejar pujian disebut prestasi. Kita bahkan kadang menyebut ketidakmampuan berhenti sebagai semangat hidup. Padahal, itu juga bentuk kekacauan batin yang hanya lebih rapi, lebih terorganisir, dan lebih mudah diterima.

Ada kegilaan yang melukai banyak orang karena haus akan kuasa. Ada kegilaan yang membuat seseorang tenggelam dalam kesepian. Ada kegilaan yang muncul sebagai kemarahan. Ada yang hadir dalam bentuk diam berkepanjangan. Ada pula yang berubah menjadi menulis, melukis, bernyanyi, menari, atau menciptakan sesuatu agar luka di dalam diri tidak berubah menjadi kehancuran.

Mereka yang tertawa sendiri di perempatan, yang berbicara dengan langit, yang menangis di pasar, yang kehilangan arah setelah ditimpa musibah, sedang berusaha bertahan. Caranya tidak kita mengerti. Perilakunya absurd. Namun, ketidakmengertian kita itu tidak memberi kita hak untuk merendahkan mereka.

Konon, orang-orang yang kita bilang gila itu adalah orang-orang yang sudah terlalu lama kuat. Berjalan sendirian sambil membawa beban yang terlalu berat. Jika kita harus menjalani luka, ketakutan, kehilangan, dan kesepian yang sama, apakah kita akan tetap mampu berdiri tegak? Perbedaan antara kita dan mereka yang gila itu bukanlah bahwa kita sepenuhnya waras. Kita hanya lebih pandai menyembunyikan kekacauan di dalam dada. Pertanyaannya bukanlah mengapa ia menjadi gila. Melainkan, gila macam apa yang sedang kita pelihara?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *