Showing 4 Result(s)

Jalan pulang ke rumah

Waktu sore, dari Kuta Malaka ke arah kota. Di bundaran Lambaro sudah jam 18.05 wib. Cuaca masih terang. Haluan ke barat menyusuri jalan Soekarno-Hatta. Matahari sore masih menyisakan silau. Ada banyak orang yang lalu lalang, yang berjualan, remaja berboncengan, gerombolan anak muda, ayah dan anak, kakak beradik, dan seterusnya… Terlintas pertanyaan (berulang), berapa peluang aku …

Nakhoda Masaid

Namaku Wilda Mahdani binti Ridwan bin Juned bin Nyak Pa (Ja’far) bin Masaid (M. Said) dan seterusnya. Ini sepenggal cerita tentang kakek dari kakekku. Ia adalah orang Meuraxa asli, seorang pelaut, pemimpin pelayaran pada masanya. Namanya dikenang sebagai Nakhoda Masaid. Tentu saja kami tidak pernah bertemu, tapi sejarahnya masih terus diceritakan, setidaknya oleh anggota keluarga. …

Kunang-kunang sudah mati

Masa itu, di kampungku belum ada listrik. Setiap malam menjelang, tupoksi bapak-bapak (dan abang-abang) menyalakan lampu petromak. Tupoksiku, ke warung Pak Amat membeli spiritus sebagai bahan bakarnya. Atau sesekali membeli lampunya yang seperti kain itu bila yang lama sudah hancur. Kami tinggal di Lampoh Bungong, dekat Blang Raya (sawah besar). Gampong Cotlamkuweueh, Meuraxa. Beberapa kali, …

Patilara

Patilara dalah klub bola voli kebanggaan warga Ceko pada zamannya, sekitar awal sampai akhir dekade 90-an. Ceko adalah sebutan kekinian untuk Cotlamkuweueh. Setiap sore pemuda dan pemudi yang gemar olah raga akan menghabiskan waktu di lapangan voli yang bertempat tepat di sebelah rumahku. Hari tertentu untuk pemuda dan hari tertentu untuk pemudi. Sesekali ada pertandingan …