Jalan pulang ke rumah

Waktu sore, dari Kuta Malaka ke arah kota. Di bundaran Lambaro sudah jam 18.05 wib. Cuaca masih terang. Haluan ke barat menyusuri jalan Soekarno-Hatta. Matahari sore masih menyisakan silau.

Ada banyak orang yang lalu lalang, yang berjualan, remaja berboncengan, gerombolan anak muda, ayah dan anak, kakak beradik, dan seterusnya…

Terlintas pertanyaan (berulang), berapa peluang aku menemukan kembali orang-orang yang dinyatakan hilang di antara mereka? Entahlah… Mungkin ada, mungkin nihil.

Di lampu merah Simpang Keutapang, pertanda akan hujan, angin turun menerbangkan daun-daun. Langit mulai mendung. Orang-orang bergegas pulang. Aku terus ke barat, arah Simpang Dodik, RS Bhayangkara. Hujan turun, gerimis. Kawanan bangau terbang menuju utara, ramai sekali mereka.

Terus ke barat, Peukan Bada – Lamjamee, lalu berbelok ke utara. Hujan makin lebat. Angin terus bertiup dari arah laut, membuat pucuk-pucuk cemara di kiri kanan jalan melambai-lambai melengkung ke timur. Jalanan mulai lengang.

Di depan Mesjid Baiturrahim, berbelok lagi ke timur, masuk ke jalan Sultan Iskandar Muda. Beberapa anak laki-laki berlarian dengan sarung dan peci, sepertinya mereka main ke laut selepas mengaji dan sekarang kuyup kehujanan.

Azan magrib berkumandang, sampai sudah. Berbelok ke selatan, Lampoh Lara. Jalan Sedap Malam. Setiap lewat jalan ini hati penuh nostalgia. Jalan inilah yang dulu selalu membawaku pulang ke rumah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *