Bradikardi relatif adalah fenomena ketika kenaikan suhu tubuh tidak diikuti kenaikan frekuensi nadi sebagaimana yang biasanya. Secara fisiologis denyut jantung akan naik sekitar 10–20 denyut/menit untuk setiap kenaikan 1°C suhu tubuh dalam keadaan demam. Beberapa studi menggunakan kriteria operasional berupa kenaikan nadi kurang dari 18 denyut/menit untuk setiap kenaikan 1°C suhu tubuh di atas normal. Bradikardi relatif didefinisikan sebagai denyut jantung yang lebih rendah dari nilai yang diharapkan untuk derajat demam tertentu. Suatu discordance pulse–temperature, meskipun tidak selalu di bawah 60 kali/menit.
Mekanisme bradikardi relatif belum sepenuhnya dipahami, kemungkinan multifaktorial. Hipotesis yang diajukan antara lain sebagai akibat efek toksisitas langsung patogen atau mediator inflamasi terhadap nodus sinoatrial, ketidakseimbangan sistem saraf otonom ( seperti peningkatan tonus vagal), gangguan jalur sitokin (misalnya IL‑1, TNF‑α), dan pengaruh obat atau toksin endogen lainnya. Interaksi antara sistem imun dan sistem saraf otonom diduga berperan penting, sehingga respons denyut jantung terhadap demam menjadi tumpul.
Bradikardi relatif paling sering dilaporkan pada berbagai penyakit infeksi, terutama:
- Demam tifoid: temuan klasik berupa bradikardi relatif (tanda Faget) dilaporkan konsisten di berbagai seri kasus dan bisa membantu membedakan dari infeksi bakteri lain.
- Dengue: beberapa studi menunjukkan adanya bradikardi relatif pada fase febril dengue dibanding infeksi febril lain.
- Legionellosis: bradikardi relatif merupakan salah satu petunjuk klinis yang dapat mengarah ke diagnosis pneumonia oleh Legionella.
- Leptospirosis: walau disebabkan bakteri ekstraseluler, leptospirosis juga sering disertai bradikardi relatif.
- COVID‑19: studi kohort menunjukkan sekitar 60% pasien COVID‑19 derajat ringan–sedang memenuhi kriteria bradikardi relatif, tanpa perbedaan bermakna pada luaran klinis dibanding pasien tanpa bradikardi relatif.
- Penyakit infeksi lain yang pernah dilaporkan: malaria, babesiosis, psittacosis, beberapa infeksi virus dan parasit intraseluler lainnya.
Bradikardi relatif juga dilaporkan pada sejumlah kondisi noninfeksi, seperti:
- Penyakit autoimun dan inflamasi, misalnya Adult‑onset Still’s Disease (AOSD), dengan studi retrospektif menunjukkan korelasi antara AOSD dan bradikardi relatif sehingga tanda ini dapat membantu diagnosis dini.
- Sindrom hipersensitivitas obat dan toksisitas obat tertentu (misalnya beberapa obat kardiovaskular, antipsikotik, atau obat yang memengaruhi nodus SA) dapat memodifikasi respons nadi terhadap demam.
- Gangguan endokrin atau metabolik tertentu juga disebutkan berasosiasi, meskipun data masih terbatas dan heterogen.
Tinjauan sistematik terbaru menyimpulkan bahwa bradikardi relatif merupakan tanda klinis yang cukup sering dijumpai, terutama pada tifoid, dengue, legionellosis, dan leptospirosis. Bradikardi relatif dinilai sensitif namun tidak spesifik. Artinya sering muncul pada kelompok penyakit tertentu tetapi tidak cukup spesifik untuk menegakkan satu diagnosis tanpa data pemeriksaan yang lain.
Namun demikian, adanya bradikardi relatif dapat membantu menyempitkan diagnosis banding pada pasien demam (misalnya mengarahkan ke tifoid, dengue, legionellosis, leptospirosis, atau COVID‑19) terutama di fasilitas pelayanan kesehatan dengan sumber daya terbatas. Serta, memberi petunjuk awal terhadap penyakit inflamasi sistemik seperti AOSD. Beberapa studi pada pasien COVID‑19 menunjukkan bahwa bradikardi relatif tidak berkorelasi dengan perburukan luaran sehingga perannya lebih menjurus sebagai petunjuk diagnostik, bukan prediktor prognosis.
Secara keseluruhan, standar definisi dan metode pengukuran bradikardi relatif masih bervariasi antar penelitian sehingga diperlukan studi prospektif dengan kriteria baku untuk memperjelas nilai diagnostiknya.
