Antibiotik terbaik

Apakah antibiotik terbaik untuk diresepkan?

Antibiotik yang paling rasional untuk diresepkan adalah yang paling sesuai dengan EBM (Evidence-based Medicine). Yaitu pendekatan medis berbasis bukti ilmiah.

Jenis penggunaan antibiotik ada tiga; profilaksis (medis & bedah), empirik, dan definitif. Terapi empirik adalah yang paling membingungkan untuk pemula yang sedang belajar.

Berikut panduannya.

Langkah pertama, pastikan dahulu bahwa pasien yang akan diberi antibiotik itu benar-benar terinfeksi oleh bakteri. Biasanya pasien mengeluh demam. Demam menandakan adanya inflamasi atau infeksi. Infeksi sendiri banyak sekali kemungkinannya untuk demam; bisa infeksi virus, malaria/parasit atau jamur yang tentu saja tidak perlu antibiotik. Jika ada marker infeksi, akan sangat membantu, setidaknya ada pemeriksaan darah rutin (hb, trombosit, leukosit serta hitung jenisnya dan laju endap darah).

Hasil lab ini dapat menjadi petunjuk kemungkinan infeksi bakteri akut bila ada leukositosis dan netrofilia. Namun tidak mutlak, kondisi tertentu seperti pada geriatri leukositnya masih dalam rentang normal, namun persen netrofil melebihi ambang normal, ini juga mengarahkan pada infeksi bakteri. Kondisi degeneratif dapat menurunkan produksi/jumlah sel-sel itu. Sehingga kita hanya bisa membandingkan proporsinya. Pada koinfeksi virus dan bakteri marker ini juga mungkin kurang bermakna.

Kedua, kumpulkan informasi yang memadai tentang antibiotik itu sendiri menurut golongan atau kelasnya (Betalaktam & Non-Betalaktam), mekanisme kerjanya, sifat bakterisid atau bakteriosatik, farmakokinetik dan farmakodinamiknya, sediaan obat yang ada, pola kuman/resistensi setempat, serta kondisi pasien dan yang paling penting adalah kemungkinan kuman penyebab infeksi.

Kemudian pahamilah spektrum antibiotik. Antibiotik mana yang paling baik untuk tiap jenis kuman. Bila ini terlalu rumit, belajarlah untuk dapat memilah mana antibiotik terbaik melawan Gram positif, Gram negatif, Kelompok enterobakteri, bakteri anaerob serta kelompok lainnya.

Setelah itu ikuti langkah berikut untuk memilih antibiotik empirik.

Setiap diagnosis infeksi, secara EBM sudah ada daftar kemungkinan utama kuman penyebabnya. Bisul, secara EBM paling sering disebabkan kuman kulit Staphylococcus, radang tenggorokan paling sering disebabkan oleh Streptococcus pyogenes, pneumonia di komunitas paling sering disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae & Haemophilus influenzae, demikian pula untuk infeksi saluran kencing oleh E.coli sebagai etiologi utama dari kelompok Gram negatif dan Enterococcus dari kelompok Gram positif. Apapun penyakit infeksi lainnya seperti congek, mata belekan, dan sebagainya itu semua dapat ditelusuri etiologi utamanya secara EBM.

Lalu pelajarilah kondisi pasien secara holistik, pasien rawat jalan atau inap akan membedakan pemilihan sediaan atau rute pemberian (injeksi atau oral), tentukan antibiotik apasaja yang cocok untuk kuman penyebab infeksi pasien tersebut, semakin banyak alternatif semakin baik. Tentukan antibiotik mana saja yang baik aksesnya menuju tempat infeksi.

Pasien imun kompeten atau tidak (pilih bakterisid atau bakteriostatik), lalu tentukan efikasi antibiotik baik klinis maupun invitro berdasarkan data pola kuman jika ada. Apakah pasien ada alergi obat tertentu; jika ia alergi penisilin sebaiknya tidak menggunakan golongan betalaktam tersebut. Apakah ada gangguan fungsi organ? Aminoglikosida sebaiknya tidak diberikan pada orang gangguan ginjal. Pasien anak atau dewasa? Apakah sedang hamil? Sesuaikan tingkat keamanannya mengacu pada EBM. Apakah pasien menggunakan obat lain yang mungkin berinteraksi dengan antibiotik tertentu? Bila ada, cari yang aman bagi pasien. Selanjutnya, tentukan antibiotik yang harganya tidak membebani pasien.

Pilihan antibiotik empirik yang bijak untuk infeksi tertentu tidak mesti antibiotik X saja, Y saja atau Z saja. Kita bisa punya beberapa pilihan setelah memilah dan memilih berdasarkan beberapa pertimbangan di atas. Boleh saja kita meresepkan antibiotik A atau B atau C, dan semuanya itu rasional.

Berapa lama antibiotik harus diberikan? Kapan harus berhenti?

Sesuaikan lagi dengan EBM. Umumnya untuk penyakit akut dapat dihentikan bila sudah bebas gejala atau marker infeksinya kembali normal. Misal untuk CAP (Community Acquired Pneumonia) EBM untuk pemberian antibiotik adalah 3-5 hari atau sampai bebas demam. Bukan bebas batuk, karena batuk masih dapat terjadi walaupun infeksi sudah sembuh sebagai akibat dari proses peradangan di paru.

Antibiotik profilaksis dipilih berdasarkan panduan yang telah ada.

Antibiotik definitif dipilih berdasarkan hasil pemeriksaan kultur dari spesimen klinis yang mewakili sumber infeksi. Hasil ini sangat ditentukan oleh keakuratan spesimen. Garbage in, Garbage out. Value in, Value out. Jika pengambilan spesimen tidak baik tentu saja hasilnya tidak akurat. Misal pengambilan darah yang tidak baik antisepsisnya, bisa saja yang diperoleh dari kultur adalah kuman daki, flora normal kulit. Spesimen luka yang tidak didekontaminasi, maka tumbuh kuman lingkungan. Dan sebagainya.

Gunakanlah antibiotik dengan bijak. Jika tidak, maka peluang terjadinya resistensi antibiotik akan sangat besar. Membawa kita segera tiba pada Post Antibiotic Era. Hal tersebut juga akan merusak kuman baik di tubuh yang seharusnya dijaga dan disayangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *