Ia masih punya doa

Sudah jauh perjalanannya menempuh jangka. Banyak peristiwa dan hikmah telah mengasahnya. Orang-orang datang dan pergi silih berganti. Ada yang menetap, namun tak pula membawa sentosa. Ia tak pernah dipandang ada di antara mereka.

Laksana lentera yang tak kuasa menyala, cahayanya kecil dan redup. Sayup-sayup.

Seringkali ia menatap arakan awan, untuk menjaga pandangannya agar tetap terang. Mencegah bola matanya mengembun. Seringkali ia mendongak mengangkat rahang, sekedar menambah ruang di rongga dada yang terasa sempit terhimpit.

Ia berusaha keras untuk tetap waras.

Salahkan saja ia atas semua. Jangan pernah memaafkan. Tak perlu pula membela. Cukup biarkan saja demikian adanya. Ia sudah terbiasa, waktu telah menempanya. Meski tak banyak yang bisa dilakukan dengan sisa tenaganya yang tak seberapa, tak usah kau hirau. Tak perlu kau risaukan dia.

Ia tak akan semudah itu patah dan menyerah.

Ia masih punya doa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *