Pengalaman Sakit COVID-19

Saya positif COVID-19 di gelombang ketiga, saat Omicron menguasai negara api.

Waktu itu, lebih separuh petugas lab di tempat kami bekerja positif tepat sebelum giliran saya. Pelayanan sempat tertunda hingga pak Sekda turun tangan. Mendatangkan bala bantuan dari Dinkes dan Labkesda.

Awalnya demam dan gejala prodormal biasa, tidak spesifik. Selanjutnya diikuti nyeri tenggorok, suara serak. Saya minta di swab di LPI USK, itu pagi hari ketiga onset sakit. Sorenya dinyatakan positif.

Lapor ke bagian farmasi RSUDZA berbekal sepucuk hasil lab itu, dapat kiriman paket obat-obatan dan vitamin yang banyak sekali, tak sanggup dihabiskan semua. Dapat kiriman bingkisan dan jamu empon-empon juga. Terimakasih ya..

Kebutuhan sehari-hari diantar sepupu dan mertua sebatas pagar. Terimakasih pula kepada sanak saudara yang mengirimkan makanan aneka rupa. Apadaya, kenikmatan dunia mulai tidak bermakna.

Tidur mulai tidak nyaman, tak bisa terlentang. Hipersekresi saluran napas. Harus semi fowler. Suara hilang. Posisi proning bisa sedikit membantu merasa lebih lega.

Hari selanjutnya sudah tidak demam, batuk semakin menggila. Dahak pagi hari mulai disertai bercak darah. Tenggorokan masih nyeri.

Setiap pagi menunggu malam, setiap malam menunggu pagi lagi.

Hari ke tujuh setelah swab awal, swab ulang.

Alhamdulillah sudah negatif. meski suara belum kembali dan batuk belum reda. Perlu waktu lebih lama untuk keduanya kembali seperti semula.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *