Dokter Berjiwa Petani

Saat masih berdomisili dekat area kampus, biasanya kalau sore-sore cuaca bagus saya berkebun. Ambil cangkul kecil dan bangku duduk, trus action di halaman. Mulai menyiangi gulma, pangkas daun-daun kering, dsb. Biarpun saat bersihin pojok sini, tumbuh lagi rumput di pojok sana, seperti kata Pak Istanul. Yaa, namanya hobi Pak.

Tanam-tanam dikit, panen-panen dikit. Serulah. Kalau ada tetangga lewat lebih seru lagi, bisa sharing tanaman & update info di komplek. Intinya, memperkuat tali silaturahmi dan muamalah.

Satu hari di antara sore-sore itu, situasi agak di luar kendali. Perkara anak minta beli burger, sementara emaknya sedang korek-korek tanah & keringatan habis geser-geser planterbag.. Tapi demi anak, diturutin juga.

Penampilan seadanya aja, tidak ada sinkronisasi warna baju celana dan jilbab, tidak ganti baju lagi. Cuci tangan & kaki pakai sabun, ambil jaket, dompet, segera bergegas agar tidak keburu maghrib. Pas kali si N lewat, tidak perlu keluarin motor sendiri lagi, langsung dicegat. Sini pinjam sebentar, naik scoopy terus meluncur ke Simpang Galon. Parkir pas di depan jualan burger.

Rame pula anak-anak antri mau beli. Yasudah, saya ikut antri juga sambil menyampaikan pesanan ke tukang burgernya.

Lalu seorang dalam antrian menyapa saya, “Dokter”…

Makjaaang, ada pula mahasiswi kedokteran. “Eh, iya.. Beli burger juga ya?”.. “iya dok”.. “Oo, saya beliin buat anak-anak”.. awalnya terasa canggung, lalu kami ngobrol-ngobrol sebentar, pesanan dia datang dan orangnya pamit.

Sebenarnya sudah sering saya ke Simpang Galon. Tempat nongkrong mahasiswa sejak dulu kala, banyak kuliner & jajanan. Langganan saya yang jual martabak, jus dan sate matang di depan Mie Ayah. Kadang saya naik motor, kadang naik sepeda. Tapi baru kali itu disapa mahasiswa.

Semoga mahasiswi itu akhirnya tiba pada kesimpulan, bahwa dosennya juga manusia biasa. Termasuk dosen yang ini, yang berjiwa petani šŸ™‚

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *