Penyakit kusta (lepra) adalah infeksi granulomatosa kronis disebabkan oleh Mycobacterium leprae yang bersifat obligat intraseluler. Kuman ini membelah sangat lambat, membutuhkan waktu generasi sekitar 2 minggu. Perjalanan penyakit serta pengobatannya bisa memakan waktu yang sangat panjang. Kuman ini menyerang kulit, saraf tepi, dan saluran napas atas, dengan perjalanan penyakit yang sangat kronis sehingga diagnosis dan pemantauan terapinya penuh tantangan.
Kusta masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia, termasuk di Aceh, dengan insiden tidak merata dan sering disertai stigma sebagai penyakit kutukan, sehingga banyak pasien terlambat berobat. Deteksi dini dan terapi multidrug (MDT) yang tersedia gratis di fasilitas kesehatan sebenarnya mampu menghentikan penularan dan mencegah kerusakan permanen, asalkan pasien datang cukup awal dan patuh menjalani pengobatan sampai selesai.
Diagnosis lepra bertumpu pada tiga poin, yaitu keluhan pasien, pemeriksaan fisik kulit dan saraf, serta pemeriksaan laboratorium. Dokter akan menilai adanya bercak hipopigmentasi atau kemerahan yang tidak gatal dan tidak nyeri, tetapi disertai penurunan atau hilangnya sensasi, keluhan baal/kesemutan di ekstremitas, luka yang sering kambuh dan sulit sembuh, serta riwayat tinggal di daerah endemis. Pada pemeriksaan fisik, seluruh kulit dan saraf tepi diperiksa. Lesi kulit dinilai sensasinya dengan kapas atau jarum halus, dan saraf tertentu (misalnya di belakang telinga, siku, pergelangan, belakang lutut) diraba untuk melihat apakah terjadi penebalan dan ada rasa nyeri.
Konfirmasi mikrobiologi biasanya dilakukan melalui pemeriksaan smear kerokan kulit dari lesi aktif dan/atau cuping telinga dengan pewarnaan Ziehl‑Neelsen untuk mendeteksi basil tahan asam (BTA), kadang ditambah biopsi kulit untuk histopatologi (BTA jaringan/ Wade-fite). M. leprae tidak dapat dikultur di media buatan sehingga laboratorium sangat bergantung pada pemeriksaan mikroskopis, histologi, dan metode molekuler seperti PCR yang masih terbatas di pusat rujukan dan belum rutin tersedia di banyak daerah endemis. Dibutuhkan beban kuman tinggi (sekitar 10³–10⁴ basil per gram jaringan) agar kuman BTA dapat terdeteksi di bawah mikroskop, sehingga pada kasus paucibacillary (PB) dengan beban bakteri rendah, hasil pemeriksaan sering negatif. Diagnosis umumnya ditentukan secara klinis.
Di sisi lain, PCR (RLEP, 16S rRNA, atau gen lain) dan serologi (anti‑PGL‑1) memiliki potensi membantu deteksi kasus subklinis atau kontak serumah, tetapi sensitivitas dan spesifisitasnya belum ideal untuk layanan rutin dan banyak yang masih dalam ranah riset. Keterbatasan fasilitas, variasi kemampuan tenaga kesehatan, dan kemiripan kusta dengan berbagai penyakit kulit lain berakibat cukup sering misdiagnosis, sehingga lepra kadang dijuluki the greatest imitator.
Sediaan smear menghasilkan dua parameter utama. Bacteriological Index (BI) dan Morphological Index (MI). BI adalah indeks semi‑logaritmik (skala 0–6+) yang menggambarkan kepadatan BTA pada sediaan mikroskopik kulit. Misalnya 1+ kira‑kira setara dengan 1–10 basil per 100 lapang pandang, sedangkan nilai lebih tinggi menunjukkan beban kuman jauh lebih besar. Nilai ini membantu klasifikasi PB versus multibasiler (MB), memandu pemilihan rejimen MDT, dan memantau penurunan beban bakteri selama pengobatan.
MI menyatakan persentase basil dengan morfologi utuh atau solid‑staining dibanding total basil yang tampak, sehingga mencerminkan viabilitas M. leprae. Basil solid dianggap hidup, sedangkan bentuk granular atau terfragmentasi dipandang sebagai basil yang sudah mati atau sedang mengalami degradasi. Idealnya, MI dihitung setelah mengamati sekitar 200 basil yang terpisah jelas, tetapi hal ini sulit dicapai karena basil banyak berkelompok (clumps/globus) dan umumnya memerlukan BI minimal sekitar 3+ agar jumlah basil yang dapat dinilai memadai. Meskipun demikian, pelaporan MI tetap bermanfaat bahkan pada BI 1+ dan 2+, terutama bila pembacaan dilakukan secara konsisten oleh analis terlatih. Secara praktis, pelaporan MI tetap bermanfaat untuk pemantauan respons terapi dan adanya kecurigaan AMR. Informasi sekecil apapun akan sangat berguna bagi klinisi.
Secara umum, BI menurun sangat lambat, khususnya pada kasus MB dengan BI awal tinggi. BI dapat tetap positif beberapa tahun setelah MDT selesai, sehingga sering sulit membedakan apakah yang terlihat adalah sisa basil mati atau masih ada populasi kuman hidup. MI biasanya turun lebih cepat dan dapat menjadi indikator sensitif respons terapi. MI yang tetap positif tinggi atau meningkat setelah MDT yang adekuat menimbulkan kecurigaan kegagalan terapi atau resistensi obat, terutama pada pasien MB dengan BI tinggi, ENL kronis, atau relaps.
Rejimen standar kusta saat ini adalah MDT dengan kombinasi beberapa antibiotik dalam durasi tetap (fixed‑duration therapy), misalnya 6 bulan untuk PB dan 12 bulan untuk MB berdasarkan rekomendasi WHO yang bertujuan memutus penularan dan menyederhanakan program di lapangan. Data jangka panjang menunjukkan bahwa sebagian besar pasien menunjukkan perbaikan klinis yang baik dan angka relaps relatif rendah, namun relaps tetap dapat terjadi bertahun‑tahun setelah selesai MDT, termasuk pada pasien dengan BI awal rendah atau smear negatif. Hal ini menyulitkan penentuan kesembuhan secara absolut. Istilah yang lebih tepat dalam program adalah selesai MDT, yang berarti telah menyelesaikan regimen standar, bukan jaminan eradikasi seluruh kuman.
Kasus‑kasus dengan BI awal sangat tinggi (misalnya ≥4+) mungkin memerlukan durasi terapi lebih panjang atau pemantauan ketat, karena penurunan BI yang lambat dan risiko relaps lebih besar. Tantangan lain meliputi pasien yang terlambat datang, ketidakpatuhan minum obat, sulitnya mendeteksi resistensi obat di lapangan, dan adanya stigma sosial yang menyebabkan sebagian pasien enggan berobat atau bahkan dilarang keluarga untuk melanjutkan terapi. Dalam konteks ini, MI yang tidak turun menjadi 0 setelah MDT efektif dapat menjadi petunjuk awal adanya non‑responder atau resistensi obat, walaupun konfirmasi idealnya memerlukan uji molekuler atau uji viabilitas di laboratorium rujukan.
Pada perjalanan penyakit yang kronis ini, pasien dapat mengalami episode peradangan akut yang disebut reaksi lepra. Kondisi ini dapat terjadi sebelum, selama, ataupun setelah pengobatan, dan berpotensi merusak saraf secara cepat bila tidak segera ditangani. Reaksi tipe 1 (reversal reaction) umumnya mengenai kulit dan saraf dengan perburukan lesi yang menjadi lebih merah, bengkak, dan nyeri, sedangkan reaksi tipe 2 (eritema nodosum leprosum/ENL) sering disertai demam, nodul kulit yang nyeri, dan gejala sistemik lainnya.
Reaksi ini dapat muncul lama setelah penghentian MDT sehingga kadang sulit dibedakan dari relaps. Bahkan pemeriksaan histologis pun tidak selalu dapat membedakan keduanya secara jelas, dan uji coba terapi steroid jangka pendek kadang dimanfaatkan sebagai pendekatan praktis untuk membantu interpretasi. Neuropati dapat terus progresif walaupun lesi kulit tampak membaik (silent neuritis), sehingga pemantauan respons tidak boleh hanya berfokus pada perbaikan kulit, tetapi juga pemeriksaan fungsi saraf secara berkala. Keterlambatan diagnosis, putus berobat, dan kurangnya follow‑up jangka panjang menyebabkan data objektif mengenai respons jangka panjang dan pola relaps masih terbatas, sementara pelatihan tenaga kesehatan tentang deteksi dini reaksi, penilaian saraf, serta interpretasi BI/MI belum merata sehingga penilaian antar fasilitas pelayanan kesehatan sering tidak konsisten.
Diagnosis awal dan pemantauan terapi kusta di Indonesia masih banyak bergantung pada perubahan nilai BI dan MI dari pemeriksaan mikroskopik kulit, disertai penilaian klinis menyeluruh terhadap kulit dan saraf. BI menggambarkan beban kuman dan cenderung turun lambat, sedangkan MI mencerminkan viabilitas dan umumnya menurun cepat bila MDT efektif, sehingga MI menjadi parameter yang lebih sensitif untuk mencurigai kegagalan terapi atau resistensi, terutama pada kasus MB dengan BI tinggi. Pelaporan MI sebaiknya diupayakan kapan pun jumlah basil memungkinkan, termasuk pada BI rendah, dengan catatan kualitas preparat dan pembacaan yang baik.
Penguatan kapasitas laboratorium dasar, termasuk penerapan prosedur slit‑skin smear yang terstandar dan pelatihan intensif interpretasi BI/MI, penting untuk meningkatkan mutu diagnosis dan pemantauan kusta. Perluasan akses teknik molekuler yang lebih terjangkau dapat membantu deteksi kasus dengan beban kuman rendah dan memperbaiki penegakan diagnosis di daerah endemis. Di sisi lain, edukasi masyarakat yang sistematis untuk mengurangi stigma terhadap kusta sangat krusial agar orang terdorong memeriksakan diri lebih awal, mendapatkan pengobatan yang tepat, dan mencegah kecacatan.
