Beliau sudah tua, sekitaran tujuh puluhan. Orangnya baik dan ramah. Beliau dirawat dengan diagnosis tetraparesis. Beberapa hari sebelumnya saya sudah melapor ke perawat senior. “Bang Is, kalau ada pasang kateter saya mau ikut yaa..”.
Hari H, pagi-pagi saya dipanggil. “Dek, sini.” Dan kami membawa troli tindakan menuju bed pasien itu. Bang Is memberi salam kepada pasien dan anaknya yang mendampingi. Menanyakan keadaan pasien, mengobrol sebentar dan “Pak, kita pasang kateternya ya.” Ia memasang sampiran, menyiapkan minor set, kasa steril, menyodorkan handschoen steril kepada saya. Sambil memberi pesan tatapan dan anggukan “lakukan sekarang”. Degg,, sayapun mengangguk, Bismillaah.. Ia lalu menuang povidon iodin dan mempersiapkan pasien.
Setelah menggunakan handschoen, saya memperkenalkan diri kepada pasien. Bahwa saya masih rotasi tahun pertama dan masih belajar. Pada hari itu beliau dan Bang Is adalah guru saya. Lalu dengan arahan dan bantuan Bang Is, perlahan saya mendisinfeksi area genitalia, memasang doek steril. Mengambil selang kateter dan mengolesi ujungnya dengan gel lubrikan. Mengatur posisi dan dengan pinset anatomis mendorong selang kateter masuk uretra pasien. Beberapa kali meminta pasien menarik napas bila terasa ada hambatan. Akhirnya urin pasien pun mengalir mengisi selang menuju kantong kencing.
Bang Is membantu mengisi balon kateter dengan akuades. Dan mengajarkan saya bagaimana cara memfiksasi selang kateter yang baik pada pasien laki-laki. Bagaimana caranya supaya plester tidak mudah lepas dan supaya tidak sakit saat ereksi. Tindakan selesai. Bang Is merapikan kembali pasien dan mengembalikan sampiran ke tempat semula.
Itulah pengalaman pertama yang berharga. Dari pengalaman-pengalaman selanjutnya di IGD, ruang bedah, ruang anak, ruang kebidanan, dll, saya belajar bahwa urin mungkin saja tidak lancar keluar karena gel lubrikan dapat menyumbat selang. Pada kondisi seperti itu perlu dilakukan spooling, mendorong sumbatan ke proksimal dengan larutan normal salin.
Saya belajar bagaimana memperkirakan ukuran kateter berdasarkan postur tubuh pasien, membuat resep kateter dengan nomor yang sesuai. Saya juga belajar bahwa kateter urin merupakan salah satu alat medis yang bertanggung jawab atas kejadian infeksi nosokomial. Sehingga pasien yang dipasang kateter perlu dirawat area OUE-nya dan setiap hari dipantau apakah ada tanda-tanda infeksi saluran kemih. Setiap hari harus dikaji apakah pemasangan kateter urin menetap masih diperlukan. Jika tidak, maka harus segera dilepas. Semakin lama waktu pemasangan kateter urin menetap maka semakin meningkat risiko pasien untuk mengalami CA-UTI.
