Dia lelah sekali

Malam itu, ia memandang dirinya sendiri di cermin. Mata yang dulu berkilau, kini tampak lelah, buram, redup hampir padam. Ia tidak sedang baik-baik saja. Hatinya seperti rumah kosong. Rumah yang pintunya selalu diketuk rasa kecewa. Ia ingin berlari. Ia ingin seseorang hadir menemani, meyakinkannya bahwa ia layak diperjuangkan. Namun yang ada hanya sunyi.

Tidak ada yang tahu seberapa sering ia menahan diri agar tidak menangis. Tidak ada yang tahu seberapa banyak kata-kata yang ia telan sendirian. Tidak ada yang tahu seberapa dalam ia menyimpan luka yang bahkan ia sendiri sudah tak sanggup menjamahnya lagi. Dia pernah percaya bahwa ia telah menemukan tempat pulang, tempat bersandar. Namun sekarang ia tak yakin lagi. Karena justru di bawah atap ini hatinya paling sering terluka.

Dia selalu mencoba memahami. Merangkai berbagai alasan untuk memaklumi. Namun lama-lama alasan yang ia jalin sendiri berubah menjadi tali yang mencekiknya. Tali yang membuatnya tidak bisa bernapas lega. Ia berusaha memahami tiap diam, tapi diam itu justru menjadi dinding yang makin tinggi.

Malam-malamnya semakin panjang. Ia terjaga dari tidurnya, menahan suara yang ingin pecah menjadi keluh kesah. Ia takut dikatakan berlebihan. Ia takut bila mengeluh, dunia akan menyalahkannya karena tidak cukup bersyukur. Siang-siangnya tak jauh berbeda. Ia berjalan seperti bayangan, menjalankan hal yang sama setiap hari, tanpa ada ruang untuk dirinya sendiri.

Ia bahkan mulai menjadi ragu. Apa memang sudah sepantasnya ia diperlakukan begini? Adakah tuhan mendengar segala curahan hati? Dia lelah memendam semuanya. Dia lelah merasa sakit berkali-kali. Lelah menjadi kuat seorang diri. Lelah terus diam saat hatinya sakit. Lelah menunggu perubahan yang tidak pernah terjadi. Lelah berharap pada hati yang tak pernah menengok kembali. Dia lelah sekali.

Ia meraba dadanya sendiri seolah mencari denyut yang dulu penuh harapan. Orang-orang ini memaksanya terus memberi. Perhatian, pengertian, kesabaran. Mereka lupa bahwa setiap pemberian itu berasal dari sesuatu yang seharusnya juga terisi. Bagaimana ia dapat menuang, bila tekonya sendiri tak pernah terisi?

Ia tidak ingin melawan siapa pun. Ia hanya ingin berdamai dengan dirinya sendiri. Ia ingin kembali hidup, bukan sekadar bertahan hidup. Ia ingin mengumpulkan kembali serpihan bahagia yang tercecer di sepanjang jalan ini. Mungkin tidak ada yang akan memahami mengapa ia mulai mengambil jarak. Ia akhirnya memilih untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

Karena ia berhak mencintai tanpa merasa terkuras. Ia berhak bahagia tanpa merasa harus meminta izin.
Ia berhak untuk mengisi ulang tekonya yang nyaris kosong. Dalam diamnya yang panjang, ia akhirnya mengerti. Mencintai diri sendiri mungkin satu-satunya yang tersisa untuk ia perjuangkan. Namun, dia sudah lelah sekali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *