Di sebuah negeri tersembunyi di bawah akar-akar hutan tua, hiduplah seekor kelabang raksasa. Tubuhnya panjang berkilau, beruas-ruas, berwarna cokelat kemerahan, dan kakinya yang sebanyak seratus itu selalu bergerak cepat menghasilkan gerakan seperti lambaian gelombang. Ia adalah raja segala makhluk bawah tanah. Lipan, kalajengking, semut tentara, bahkan ular lumpur tunduk padanya.
Raja Kelabang terkenal semena-mena dan sangat angkuh. Ia suka merampas, menghukum makhluk kecil karena alasan sepele. Ia menyukai suara tangisan. Ia membenci musyawarah, lebih suka perintah. Jika ada makhluk kecil yang membuatnya marah, maka ia mencabut satu kaki mereka sebagai pelajaran. Bila ada cacing tak sengaja menggeliat ke wilayahnya, maka ia mencambuknya dengan ekor penuh duri. Ia bahkan melarang cahaya bulan masuk ke tanah kekuasaannya.
Raja Kelabang juga tidak kenal sopan santun. Saat raja semut dari utara datang membawa madu sebagai penghormatan, Raja Kelabang menyemburnya dengan racun karena merasa pemberiannya terlalu sedikit. Ketika perjamuan digelar di gua, ia duduk di tengah dan makan lebih dahulu, tak hendak menunggu.
Ada satu rahasia yang ia simpan rapat-rapat. Rahasia yang tak diketahui oleh satu pun penduduk rimba. Bahwa Raja Kelabang itu tidak bisa bertahan hidup tanpa sandarannya, seorang wanita.
Wanita itu bukan manusia biasa. Ia dulu adalah tabib hutan yang dapat berbicara dengan tanah dan pohon. Suatu malam, saat mencari tanaman obat, tanpa sengaja ia mengusik Raja Kelabang yang pemarah. Ia lalu digigit olehnya. Namun alih-alih mati, racun kelabang larut dalam darah sang tabib, membuatnya dan sang kelabang terikat oleh nyawa. Sungguh ajaib, rasa sakitnya dirasakan pula oleh sang kelabang. Jika ia mati, sang kelabang pun binasa. Sejak saat itu, mereka bersama, bukan sebagai tawanan, melainkan sebagai penjaga jiwa. Mereka tidak saling membenci, pun tidak saling mencintai.
Raja Kelabang sering meluapkan amarah pada makhluk lain, namun tak pernah berani menyentuh sang wanita. Ia tahu, satu luka padanya, adalah luka untuk dirinya sendiri. Meski tetap saja perlakuannya kasar, berbicara dengan teriakan, tak pernah menyapa, bahkan memperlakukannya seperti bayangan, tak pernah dianggap ada. Hingga suatu ketika, sang wanita berkata pelan; “Wahai kelabang, sampai kapan kau memerintah dengan menebar ketakutan?”. Seru Kelabang; “Aku tidak butuh nasihatmu!”
Malam-malam berikutnya, kata-kata itu terus bergema semakin nyaring dalam pikiran Kelabang. Ia mulai gila. Lama kelamaan ia mulai memperhatikan, bahwa rakyat bawah tanah selalu tampak lesu. Bahwa tak pernah ada lagu jangkrik. Bahwa tak pernah ada tarian semut. Semuanya hidup dalam bayang ketakutan. Akhirnya, sang kelabang menyerah pada satu kenyataan pahit, kuasa yang dibangun atas rasa takut akan runtuh sendiri.
Ia mulai membuka celah di langit-langit tanah agar sinar rembulan bisa masuk. Ia membiarkan jamur bersinar tumbuh, menjadi makanan bagi semua warga penghuni dasar rimba.
Wanita itu, yang diam selama bertahun-tahun, akhirnya tersenyum. Ia tahu, makhluk seperti kelabang telah berubah karena dirinya. Bukan karena cinta, bukan karena belas kasihan. Melainkan karena takut kehilangan satu-satunya yang membuatnya hidup.
