Menemukan tempat itu adalah ketidaksengajaan. Waktu itu, saat ia menepi sejenak melepaskan diri dari hiruk pikuk kota. Tempat orang bersama tapi tak saling mengenal. Orang ramai berkumpul namun banyak yang merasa sendirian. Ia pergi ke kampung, tempat yang sederhana, setiap orang diterima apa adanya. Mengambil waktu untuk kembali menemukan rupa sebagai manusia.
Dari kampung, ia terus berjalan lebih jauh pagi itu, mendaki menyusuri batas dusun. Berbelok di sisi gunung, mendaki lagi. Terletak celah sempit itu di antara batuan basalt raksasa berwarna abu tua. Disusurinya urat-urat terang melintang pada batu di setapak itu. Celah panjang menyerupai lorong yang hanya dapat dilewati satu badan orang. Ia terus berjalan, entah sejauh apa, hingga tak tampak lagi tumbuhan. Hanya beberapa onggok rumput kering. Sisanya batu semua.
Di salah satu sisi, tampak ceruk menyerupai pintu, mempersilakannya masuk. Sejenak ia melepas lelah berteduh dari matahari yang nyaris di atas kepala. Perlu waktu untuk mata beradaptasi melihat isinya. Hanya batu, beberapa goresan pada dinding. Jejak orang-orang terdahulu. Lebih ke dalam, gema suara napas makin jelas. Hawa semakin sejuk dan lembab.
Ceruk itu buntu, namun beberapa kekusutan pikirannya terurai di sana. Sepi, namun sama sekali ia tidak takut sendiri. Gelap, namun ia menemukan hatinya lebih terang. Tempat itu ajaib, namun ia tidak bisa lama di sana. Saat senja datang, waktu bukan lagi miliknya.
Mungkin dia akan kembali lain kali. Ke tempat itu yang hanya dapat ia datangi saat siang hari. Tempat yang menyenangkan, namun menghabiskan waktu di sana takkan pernah menjadi tujuannya. Waktu yang berharga itu, bukan punya dia sepenuhnya.
