Sarkoma Psoas

Bang M, 37 tahun saat itu, pasien post operasi dengan diagnosis Sarkoma Psoas. Orangnya tidak hitam tidak putih, tidak tinggi tidak pendek juga, rambutnya tidak lurus tidak keriting. Sedang-sedang. Bicaranya bahasa Aceh. Di sisinya selalu ada seorang pendamping setia, entah sahabat, entah sanak saudara.

Tiap pagi saat follow up “Pakghiiban Dghoen bang ughonyoe (saya pakai logat Aceh Ghayeuk)”. “Hai, lagee biatsa. Gaki manteung hana geut teuratsa, bla bla.. (beliau logat Aceh Utara). Orangnya sangat komunikatif dan interaktif. “Cutkak hanee tghok bang?”.. “Boeh pat na, tamita tsidroe..” Vibe-nya selalu segar dan ceria.

Dia paham betul sakitnya, bukan sakit biasa. Dokter konsulen bedah pun sudah menjelaskan apa adanya, perihal kanker yang sudah meluas dan kemungkinan ada penyebaran. Abang itu tetap seperti biasa, tampak bahagia. Entah bagaimana di dalam hatinya, saya tidak bisa melihat kesana. Yang membuatnya setabah itu, selain dukungan keluarga mungkin sekali karena iman yang paripurna.

Sarkoma psoas adalah sejenis kanker yang menggerogoti otot rangka. Pada pasien ini di muskulus psoas, otot besar yang terletak di bagian belakang rongga perut, memiliki fungsi untuk menarik kaki ke arah tubuh. Sarkoma psoas ini bersifat ganas dan agresif, jarang terjadi dan seringkali sulit didiagnosis karena gejalanya yang tidak spesifik. Kondisi ini dapat menyebabkan nyeri punggung, kaki yang lemah, atau masalah dengan BAK dan BAB. Pengobatannya melibatkan kombinasi pembedahan, kemoterapi, dan radiasi, tergantung pada ukuran dan penyebaran kankernya.

Setelah beberapa hari dirawat, abang itu diperbolehkan pulang dan berobat jalan. Pengobatannya belum selesai, ia harus dirujuk ke Jakarta untuk menjalani terapi kemo dan radiasi.

Saya bertemu lagi dengannya di poli bedah saat kontrol ulang serta mengurus administrasi rujukan. “Baang Mmm..peue habee. Omee, leupah ganteng dghoen lagoo” Bang M senyum-senyum seperti biasa dan menanyakan kabar saya. Kami mengobrol beberapa saat sebelum saya pamit meninggalkannya.

Bang M adalah pasien paling necis dan paling parlente yang pernah saya temui. Selalu bersih, rapi dan wangi. Saat di poli itu dia memakai atasan T-shirt dan jaket trendi, dipadankan celana jeans dan sepatu kulit yang sangat keren. Siapapun yang melihat, tidak akan percaya bahwa ia adalah pasien kanker yang diramalkan hidupnya tidak akan lama lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *