Mola

Hari itu, salah satu diantara hari-hari rotasi kepaniteraan klinik di ruang rawat kebidanan dan penyakit kandungan. Pagi-pagi baru datang langsung ditarik keluarga pasien ke kamar rawat. Wajah mereka cemas. Sepertinya memang sudah ditunggu sejak tadi. “Nak, sini nak. Semalam setelah Anak kasih obat, keluar dia sebanyak ini” ujar salah satu keluarga pasien sambil menyodori sebuah timba sedang yang berisi dua pertiga penuh. Isinya menyerupai bubur nasi dengan noda2 merah kecoklatan di sela-selanya.

Pasien adalah wanita muda usia awal 20an. Tubuhnya kurus, berkulit terang, di wajahnya ada bintik-bintik kecoklatan, dia cantik. Ia ditemani beberapa anggota keluarga. Sepertinya mereka dari kota yang jauh. Ia masuk ruang rawat kemarin, rujukan rumah sakit daerah dengan diagnosis Hamil Anggur (Mola hidatidosa). Ini kehamilan pertamanya. Bulan-bulan awal dilaluinya dengan sangat berat, akibat kadar hormon Beta hCG-nya yang terlalu tinggi. Hasil laboratorium yang lainnya secara umum baik. Saat masuk, ukuran rahimnya setinggi dua jari di atas pusar. Pasien direncanakan untuk tindakan kuretase hari itu.

Semalam, sebelum pulang jaga, saya (koas) memasukkan seperempat tablet obat untuk melunakkan jaringan di leher rahim pasien, sesuai instruksi dari konsulen. Rupanya responsnya luar biasa. Isi rahim pasien nyaris keluar semua. Pagi ini perutnya sudah kempes. Dengan penampakan pasien yang semakin pucat, ia juga kehilangan banyak darah. Pemeriksaan Hb cyto dikerjakan. Angka yang kemarin 10 mg/dL, hari ini menjadi 5 mg/dL.

Semua orang panik. Kecuali pasien. Ia masih bisa tersenyum meski lemah. Tidak pernah mengeluh sedikitpun, dia sabar. Mungkin sudah pasrah. Suami pasien segera diarahkan ke PMI untuk mencari darah yang kompatibel, persiapan transfusi. Awalnya ia sempat kebingungan bagaimana caranya, namun dia gigih dan dia belajar. Usahanya membawa hasil. Pasien segera ditransfusi begitu darah didapat. Ada dua kantong. Tindakan kuretase tetap dilakukan hari itu sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.

Selanjutnya pasien diobservasi selama dua hari di ruang rawat ginekologi sebelum dipulangkan. Kondisinya membaik.

Mola hidatidosa (Mh) pertama kali dideskripsikan oleh Hippocrates sekitar tahun 400 SM sebagai “penyakit gembur-gembur pada rahim”. Kehamilan ini unik karena tumor maternal muncul dari jaringan kehamilan, bukan jaringan somatis ibu. Kehamilan mola, meskipun jinak, dianggap sebagai premaligna karena memiliki potensi untuk berkembang menjadi keganasan.

Mh terjadi setelah pembuahan yang menyimpang. Kehamilan mola ditandai dengan vili korionik abnormal dengan hiperplasia trofoblas, kadar hormon Beta hCG pada kondisi ini cukup tinggi. Faktor risiko utama untuk Mh adalah usia ibu yang ekstrem dan riwayat kehamilan mola sebelumnya. Faktor diet juga dapat berperan. Beberapa studi mengaitkan peningkatan risiko dengan rendahnya konsumsi karoten (prekursor vitamin A) dan lemak hewani.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *