Cerita Seekor Kambing

Di sebuah desa kecil di lembah pegunungan, hiduplah seekor anak kambing. Ia tenang, jinak, dan sangat gemar menghabiskan waktu berbaring di bawah naungan pohon beringin tua. Jika anak kambing lain lincah berlari-lari, ia justru lebih suka diam menyendiri. Ia hanya menunduk, mengunyah rumput. Ia tak suka tergesa-gesa.

Namun, sejak lahir ke dunia, nasib tidak berpihak kepadanya. Ia dikenal warga bukan sebagai kambing jinak, melainkan kambing pembuat onar. Sama sekali bukan karena perbuatannya, melainkan karena kata-kata para manusia.

Ketika jemuran milik Paraji hilang diterbangkan angin. Orang-orang berkerumun di halaman. “Siapa lagi kalau bukan kambing sialan itu?” ujar seorang warga. “Pasti dia yang menggigit jemuran itu dan menariknya!” sahut yang lain. Padahal saat itu si anak kambing bahkan masih tidur nyenyak di kandang.

Hari lain, kebun Pak Tetua rusak, batang singkong patah-patah. Tak ada bukti jejak kambing. Tapi lagi-lagi, suara sumbang terdengar. “Ah, kambing itu memang rakus. Siapa lagi kalau bukan dia?”

Anak kambing itu hanya bisa mengembik. Suaranya berat, serak, seperti anak kambing pada umumnya. Namun, suara itu pun tak luput dari ejekan. “Dengar itu! Betapa buruk bunyinya. Seperti orang meratap tak henti-henti,” kata seseorang sambil menutup telinga. “Benar! Suaranya saja sudah mengganggu, apalagi tabiatnya,” timpal yang lain.

Padahal itu hanyalah suara kambing biasa, suara yang sejak dulu menjadi bagian dari alam semesta. Tetapi di telinga mereka yang sudah terlanjur menyalahkan, embikan pun dapat terdengar sebagai bukti baru untuk menambah daftar kesalahannya.

Hari-hari berikutnya tak jauh berbeda. Atap bocor karena hujan deras “Pasti karena kambing itu menubruk genteng!” Tanah longsor menutupi jalan setapak “Pasti kambing itu mengais tanah.” Bahkan ketika anak-anak jatuh saat bermain kejar-kejaran, ada orang yang berseru, “Kambing itu yang bikin tanah licin!”

Seolah-olah si anak kambing adalah jawaban mudah untuk semua masalah. Dan bagi warga desa, menyalahkan si anak kambing terasa lebih ringan daripada mencari sebab musabab sebenarnya.

Malam hari, di bawah cahaya bulan, anak kambing sering menatap langit. Ia bertanya dalam hatinya, “Apakah aku dilahirkan hanya untuk disalahkan? Apakah memang beginilah nasib seekor kambing berbulu hitam?” Setelah sekian purnama, akhirnya ia mulai mengerti, warna tubuhnya tidak penting. Karena yang sesungguhnya hitam adalah hati manusia yang gemar menuduh tanpa bukti.

Suatu waktu, badai besar mengguncang desa. Angin merobohkan pohon, air bah melanda kebun, pagar bambu beterbangan. Kekacauan melanda lembah. Dan, sesuai kebiasaan, warga bergegas mencari kambing itu. “Di mana dia?! Pasti dia yang menyebabkan ini semua!” teriak seseorang.

Namun saat mereka menemukan, ia sedang berdiri di tepi jurang, mengembik keras, mencoba memperingatkan seorang anak kecil yang hampir terseret arus bandang. Suara yang selama ini dicemooh karena dianggap buruk, justru menjadi suara penyelamat. Karena embikannya, anak kecil itu berhasil diselamatkan.

Warga saling berpandangan. Untuk pertama kalinya, mereka menyaksikan kebenaran. Kambing yang selalu mereka salahkan itulah yang justru berjasa. Suara yang mereka hina ternyata menjadi penyelamat nyawa.

Sejak hari itu, ia tetap hidup seperti biasa. Ia tidak menuntut balas, tidak menagih pujian. Ia hanya kembali berbaring di bawah pohon beringin, mengunyah rumput dengan tenang. Tapi di balik matanya yang dingin, telah tumbuh sebuah kebijaksanaan.

Manusia sering mencari kambing hitam karena tidak berani menatap kebenaran. Menyalahkan yang lemah lebih mudah daripada mengakui kesalahan. Bahkan suara kambing yang wajar pun bisa dipelintir menjadi alasan tuduhan.

Sesungguhnya, yang buruk bukanlah suara kambing, melainkan telinga manusia yang tuli terhadap kebenaran. Yang hitam bukanlah bulu kambing, melainkan hati manusia yang rela menyalahkan demi menutupi aibnya sendiri. Bila nanti suatu hari dunia terasa penuh fitnah, carilah manusia yang bersembunyi di balik tuduhan. Sebab bisa jadi merekalah sumber sesungguhnya dari semua kebusukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *