The Entanglement Theory
Ada cerita, tentang seorang kakek tua. Ia dapat melihat benang merah yang saling menghubungkan manusia. Konon di suatu tempat, seorang putra saudagar kaya bertemu dengan orang itu. Sang putra dengan penuh rasa ingin tahu menanyakan dimanakah ia bisa menjumpai pasangan hidupnya? Lalu orang tua itu mengatakan dengan menatap dalam mata si pemuda. Esok pagi, Kau pergilah ke arah barat, teruslah berjalan sampai menjelang senja. Kau akan melihat hamparan sawah di kaki gunung. Di bawah sebuah pohon, di dalam ayunan, itulah jodohmu.
Keesokan paginya pemuda itu menempuh perjalanan sesuai perkataan sang orang tua. Saat ia mendapatkan ayunan itu, ia melihat seorang bocah perempuan tertidur di dalamnya. Orangtuanya sedang bekerja di sawah, meninggalkannya disana dalam pengasuhan pohon rimbun dan angin sepoi-sepoi. Sang pemuda tidak senang, dalam hatinya ia menolak berjodoh dengan sang bocah miskin. Dilukainya perut anak itu dengan belati yang dibawanya. Tak tega ia menusukkan belati tersebut. Lalu ia berlari kesetanan membawa seluruh penyangkalan akan kata-kata kakek tua, meninggalkan anak yang menjerit dan orangtuanya yang berlari tunggang langgang menghampiri.
Tahun berselang. Pemuda telah menjadi laki-laki pemurung dan pendiam, dihantui rasa bersalah. Setiap hari hanya menghabiskan waktu di kamarnya. Hingga suatu ketika, ia mulai memperhatikan tepat di seberang jendela kamarnya adalah jendela kamar seorang gadis yang kemudian menawan hatinya. Kerap ia menunggu kemunculan sang gadis untuk membuka dan menutup jendela saat pagi dan senja. Singkat cerita, orang tua sang pemuda akhirnya melamar gadis itu. Mereka pun menikah.
Sang pemuda terperanjat ketika mendapatkan bahwa di perut gadis itu terdapat sebuah bekas luka. Gadis itu menceritakan bahwa dulu ia pernah ditikam saat berada dalam ayunan, ketika orang tuanya sedang bekerja di sawah. Sejak saat itu ayahnya tidak lagi bertani. Ia memutuskan bekerja sebagai nelayan. Ibunya tinggal dirumah menjaga dirinya. Pada suatu hari, ayahnya menjala ikan-ikan yang di perutnya ada batu permata. Ia lalu menjual permata-permata itu sehingga membuatnya kaya. Ayahnya lalu berhenti menjadi nelayan, ia memutuskan untuk berdagang sehingga menjadi saudagar kaya. Keluarga mereka pindah ke rumah baru, tepat di sebelah rumah sang pemuda.
Sang pemuda menangis, mengiba, memohon pemaafan dari isterinya. Ia lalu menceritakan semuanya, bahwa ialah yang melakukan perbuatan tidak terpuji itu. Akhirnya, sang isteri pun memaafkannya.
Dalam fisika, mereka itu seperti dua partikel terjerat (entangled). Bergerak dalam kehidupan masing-masing, tanpa tahu bahwa mereka saling memengaruhi. Hingga akhirnya mereka saling menatap di antara dua jendela, saling menarik seperti dua kutub yang berbeda.
Saat sang pemuda melukai anak perempuan dalam penolakannya, semesta tidak menghapus benang merah itu. Ia hanya memelintirnya, mengubah jalur pertemuan mereka. Dan dalam pelintiran itulah, hidup menggulung peristiwa menjadi takdir. Penderitaan menjadi jalan menuju kekayaan, luka menjadi penanda cinta, dan rasa bersalah menjadi penebusan dosa.
Ada sebuah misteri dalam dunia fisika kuantum. Dua partikel yang pernah bersinggungan, tak akan pernah bisa sepenuhnya terpisah. Entanglement terjadi bukan hanya karena partikel pernah bersinggungan secara fisik, tetapi karena mereka pernah berbagi keadaan kuantum yang sama. Keterikatan itu muncul karena interaksi atau proses yang membuat dua (atau lebih) partikel memiliki state (keadaan kuantum) yang saling bergantung. Meski semesta memisahkannya sejauh bintang dan samudra, setiap perubahan pada yang satu akan langsung mempengaruhi yang lain. Waktu dan ruang tidak berlaku bagi mereka, sebab keterikatan itu bukan soal tempat, melainkan keadaan keberadaan.
Begitu pula dua jiwa yang pernah bersinggungan. Bahkan dalam penyangkalan. Ada sesuatu yang tetap menghubungkan mereka. Seperti benang merah tak kasat mata yang dilihat sang kakek tua dalam kisah itu. Mungkin ini bukan sekadar metafora, melainkan kenyataan dari hukum semesta yang lebih dalam dari logika manusia. Bahwa keterikatan sejati tak mengenal arah dan usia. Ia ada di sana, menunggu untuk terungkap dalam waktu yang tepat.
Di antara ruang yang membentang dan waktu yang mengulur, dua partikel yang pernah sekali bersinggungan, tak akan pernah benar-benar sendiri lagi. Dua jiwa berjalan di garis imajiner yang tak pernah benar-benar terputus. Dunia menyebutnya jarak. Mereka adalah dua partikel yang pernah disentuh oleh momen yang sama. Teori entanglement menyebutnya keterjeratan. Ketika dua entitas, meski dipisahkan jarak sejauh apa pun, tetap dapat saling mempengaruhi.
Seseorang mungkin terjaga di malam hari tanpa sebab, dan di ujung bumi sana, seseorang yang lain menatap langit yang sama, merasa kosong tanpa alasan. Mereka tidak saling berbicara. Mereka tidak saling menyentuh. Di dunia nyata, mereka hanya dua titik di peta. Namun dalam hukum tak tertulis semesta, mereka adalah satu sistem tunggal, berdetak dengan irama yang sama.
Dalam teori entanglement, tak perlu tali, tak perlu suara. Yang dibutuhkan hanya jejak interaksi. Dan begitu koneksi itu terjadi, tidak ada jalan kembali ke keadaan sebelum keterikatan. Barangkali begitulah kisah cinta bekerja. Bukan sekadar tentang siapa yang datang pada akhirnya, tetapi tentang siapa yang sudah terhubung sejak semula.
