[Pak AA dalam kenangan]
Pak AA adalah guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah kami.
Anak Mosa pasti tidak asing lagi dengan kalimat ini. Anak Bapak, menulis Anda! Kalimat yang selalu diulang-ulang Bapak kami saat mengajar.
Beliau adalah guru yang sangat bersemangat dan sangat disiplin. Jam pelajaran pertama, pukul 7.20 WIB (lebih awal dari sekolah lain, karena kami tinggal dekat di asrama) beliau sudah masuk kelas. Selalu tepat waktu, tak peduli di luar sana ada badai, hujan dan angin kencang. Dengan motornya, beliau tetap berjuang sampai ke sekolah untuk mencerdaskan kami semua.
Beliau selalu menyebut murid-murid dengan sapaan Anak Bapak. Di kelas, Pak AA mengajar dengan riang gembira, membuat semua murid merasa bahagia. Di bawah bimbingan dan arahan beliau, beberapa anak Mosa berhasil meraih prestasi bergaya dalam bidang Bahasa Indonesia.
Bapak kami ini sering menempatkan kata “dong”, “sih”, “deh” di akhir kalimat saat berbicara dengan cara yang sangat unik. Kadang kurang cocok. Hal itu sungguh lucu, dan telah menjadi ciri khas beliau.
Sesekali beliau bercerita tentang perjuangannya untuk bisa bersekolah, tentang baju sekolah yang hanya satu, tentang bekerja di warung kopi setelah sekolah. Sesekali beliau bercerita tentang penyakit diabetes dan suntikan insulin.
Beberapa tahun lalu, beliau telah meninggalkan dunia setelah menjalani perawatan di rumah sakit. Penyakit diabetes yang beliau derita sudah semakin parah.
“Bapak sakit, Naak”, itu kata-kata terakhir beliau, saat kami menjenguk di rumah sakit. Saat terakhir kami dapat bersalaman dan mencium tangan Bapak kami. Sebelum perlahan tingkat kesadarannya terus menurun.
Hari ini, saya menulis Pak, tentang Bapak. Kami di sini, anak-anak Bapak, mendoakan semoga Bapak kami diberi tempat yang mulia di sisi Allah SWT. Aamiin.
