Refleksi HarKitNas 2025

Selamat Hari Kebangkitan Nasional, Teman!! Hari ini 20 Mei, diperingati sebagai momen penting dalam sejarah perjuangan bangsa. Hari Kebangkitan Nasional yang merujuk pada berdirinya organisasi Boedi Oetomo yang bermakna Pemuda Terpelajar, pada tanggal 20 Mei tahun 1908.

Organisasi ini didirikan oleh Dr. Soetomo dan para mahasiswa STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) di Batavia (kini Jakarta). Tujuan utama Boedi Oetomo adalah untuk meningkatkan pendidikan dan kesejahteraan masyarakat pribumi, mendorong persatuan di kalangan bangsawan dan kaum terpelajar Jawa dan Madura. Ia bukan organisasi politik, tetapi bersifat sosial dan budaya. Boedi Oetomo menandai pergeseran perlawanan fisik ke perjuangan intelektual, memperlihatkan bahwa kemerdekaan bisa diperjuangkan lewat organisasi, pendidikan, dan persatuan. Inilah awal munculnya kesadaran nasional dan benih-benih nasionalisme Indonesia.

Boedi Oetomo resmi dibubarkan pada tahun 1935. Organisasi ini melebur ke dalam Partai Indonesia Raya (Parindra) yang dipimpin oleh Dr. Soetomo. Pembubaran Boedi Oetomo disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk kurangnya dukungan massa dan posisi politik yang kurang penting. Meski tidak bertahan lama, Boedi Oetomo membuka jalan bagi munculnya organisasi pergerakan lain seperti Sarekat Islam, Indische Partij, dan Partai Nasional Indonesia, yang selanjutnya kelak mendorong kemerdekaan negara Republik Indonesia.

Hari Kebangkitan Nasional bukan sekadar peringatan sejarah, namun juga momen refleksi. Berikut adalah sebuah tulisan menggugah yang saya baca di grup WhatsApp. Semoga pada momen ini kita dapat mengheningkan cipta sejenak dalam kegelisahan bersama. Bahwa pendidikan kedokteran di negara ini, saat ini sedang tidak baik-baik saja.

Refleksi Seorang Mahasiswa Kedokteran terhadap Dinamika Pendidikan Kedokteran Saat Ini

Saya masih ingat betul perasaan saya saat pertama kali diterima di FK. Pada saat itu, saya dipertemukan dengan banyak guru-guru senior, mereka mendidik saya dengan nilai-nilai moral, dengan cara yang tidak dapat saya bayangkan sebelum saya berada disini.
Diantara banyak nya pendidikan moral dan etika, salah satu hal yang paling saya ingat adalah kuliah bersama Prof. Damayanti, ia bertanya pada kami: “kalau pasien kalian membutuhkan suatu pengobatan yang tidak tersedia di negara ini, apa yang akan kalian lakukan? apakah kalian akan diam? apakah kalian akan mengatakan kepada pasien : ‘mohon maaf disini belum ada’ begitu?” kami semua terdiam. Lalu, dengan sepenuh jiwa, Prof. Damayanti melanjutkan, “tidak boleh, sebagai seorang dokter kalian tidak hanya harus memberikan pengobatan yang ada, tapi kalian harus berusaha dan berjuang untuk pasien kalian, agar mereka mendapat pengobatan yang terbaik”. Di hari itu, Prof. Damayanti baru saja mengangkat standar seorang dokter dalam pikiran dan hati mahasiswa nya, tertanam dalam diri kami makna sejati dari advokasi, yang di kemudian hari ditekankan kembali oleh banyak guru guru kami.

Sejak hari itu, ada semacam keyakinan yang lahir dalam hati saya, bahwa dunia kedokteran adalah tempat orang-orang yang tulus belajar, bekerja, dan berjuang untuk manusia lain. Tempat yang, meskipun memiliki tantangan akademis yang berat, tetap menekankan nilai nilai luhur. Tempat yang membuat saya merasa aman. Aman dari kekacauan dunia luar. Aman dari kepentingan-kepentingan politik. Aman karena di sini, yang paling dihargai adalah ilmu, integritas, dan kemanusiaan.

Tapi beberapa waktu terakhir, rasa aman itu terasa seperti mulai direnggut pelan-pelan. Berita tentang seorang PPDS yang melakukan kekerasan seksual bukan hanya menyakitkan, ia menghancurkan hati banyak dari kami. Tapi yang lebih menyakitkan adalah bagaimana tragedi ini dimanfaatkan untuk membangun narasi gelap tentang profesi dokter secara menyeluruh.

Kami sedang mencoba belajar menjadi dokter yang baik. Tapi narasi yang berkembang membuat seolah-olah kami semua adalah bahaya yang harus dibongkar. Seolah-olah dunia kedokteran adalah institusi rusak yang harus dikendalikan dengan tangan besi.

Saya tahu, di rumah sakit pendidikan, PPDS adalah tangan kanan para konsulen, mereka belajar dengan cara melakukan, bukan hanya melihat, dan metode belajar seperti itu telah dilakukan sejak zaman dahulu kala, agar dokter yang terjun memiliki pengalaman memadai dalam asuhan konsulen dan dokter dokter berpengalaman. Sehingga saat Menteri Kesehatan, yang bukan dari latar belakang kesehatan, berkomentar seperti “aneh kenapa PPDS yang melakukan, seharusnya konsulen”, kalimat itu membuat saya sadar: pemegang kebijakan tertinggi tidak benar-benar mengerti seperti apa dinamika pendidikan dokter yang sesungguh nya.

Lalu, ketika hak kolegium kedokteran dicabut secara sepihak oleh Kemenkes, dan IDAI memberikan pernyataan sikap, tiba tiba ketua IDAI dipindahkan begitu saja dari RSCM tanpa informasi kepada yang bersangkutan. Saya merasa lebih dari sekadar marah. Saya merasa dikhianati oleh negara saya sendiri.
Saya masih seorang mahasiswa tingkat 2, tetapi saya tau bahwa senior senior saya belajar dari beliau. Dari semangatnya. Dari teladannya. Dari cara beliau menangani setiap pasien. Dan sekarang, tanpa ruang bicara, beliau dijauhkan dari tempat yang menjadi rumah ilmunya, beliau dipisahkan dari murid murid nya, yang entah harus belajar dari siapa bila guru guru nya direnggut begitu saja.

Lalu isu pemisahan universitas dan rumah sakit pendidikan. Saya belum sepenuhnya paham bagaimana konsep baru ini, tapi ketika saya membayangkan tidak bisa lagi di didik langsung oleh dokter klinisi, saya tahu pasti: ada sesuatu yang berharga yang akan hilang.
Saya tidak ingin belajar di tempat yang hanya memproduksi dokter secara teknis, suasana belajar yang hanya bertumpu pada sistem rumah sakit, tanpa bimbingan seorang guru, tanpa ruh. Saya ingin tetap punya akses ke tempat di mana dokter-dokter terbaik negeri ini belajar, mengajar, dan merawat pasien dalam satu nafas. Jika kelak seorang klinisi tidak boleh lagi mengajar, dan dosen tidak boleh lagi merawat, maka siapa yang akan meneladankan kami cara menyentuh manusia dengan ilmu dan empati sekaligus? siapa yang akan mengingatkan kami bahwa yang kami tangani bukan semata mata penyakit saja, tetapi juga manusia nya?

“Salemba Berseru” adalah suara dari para guru besar kami. Dan saya bangga. Tapi entah kenapa, di balik rasa bangga itu, ada kesedihan yang lebih dalam. Kesedihan karena tempat terakhir yang saya anggap suci, kini ikut terseret arus kekuasaan. Hingga mereka harus menerbitkan hal semacam ini, yang tidak akan terjadi apabila negara mengedepankan kolaborasi, apabila negara memahami bahwa mereka seharusnya mengayomi.

Saya menulis ini bukan untuk menyalahkan. Tapi untuk mengatakan: saya merasa kehilangan. Kehilangan rasa aman. Kehilangan kepercayaan. Dan itu bukan karena saya takut perubahan. Tapi karena saya tahu apa yang sedang diambil: nilai, semangat, dan keutuhan pendidikan kedokteran Indonesia.
Tapi saya belum kehilangan harapan. Karena saya masih melihat guru guru saya berdiri tegak, meski dalam tekanan. Saya masih melihat mahasiswa lain saling menguatkan dalam semangat nya. Dan saya tahu, profesi ini telah bertahan sampai hari ini bukan karena sistem yang sempurna, tapi karena orang-orang yang menjaganya.

Kami akan terus belajar. Tapi kami mohon, jangan bungkam suara mereka yang mengajarkan kami bukan hanya untuk menjadi dokter, tapi menjadi manusia.

Mahasiwa Kedokteran Tingkat 2 Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Modul Pengembangan Personal  Profesional

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *