Tanpa pernah kita rencanakan, tiba‑tiba saja kita saling berpapasan di jalan. Entah sejak kapan kita beriringan, mengendarai kendaraan masing‑masing berdampingan. Namun ini bukan tentang mengemudikan kendaraan.
Mungkin semesta yang mengatur semuanya. Sore hari, ketika lalu lintas sedang ramai‑ramainya, membawa orang-orang pulang. Kita terselip di antara arus itu. Namun ini bukan tentang arus lalu lintas.
Kita saling menyesuaikan kecepatan, kadang memacu dan menguatkan gas, kadang sengaja melambat, seolah sepakat untuk tetap bersisian tanpa mengganggu dinamika jalan. Namun ini bukan tentang jalan raya.
Klakson sesekali terdengar di kejauhan, lampu sein berkedip, kaca spion memantulkan bayangan. Ada garis yang menertibkan kita tetap di lajur masing‑masing. Garis putus‑putus, garis utuh yang tidak boleh dilanggar. Namun ini bukan tentang marka jalan.
Di antara deru mesin dan asap knalpot, ada curi-curi pandang, sehingga waktu seolah melambat. Di situlah aku menyadari bahwa kita sama-sama tahu kapan harus mendahului kapan harus memberi jalan. Namun ini bukan tentang perjalanan.
Ada saat ketika jarak terpaut jauh atau terlalu dekat. Lalu dengan refleks kita kembali menyesuaikan. Seakan sama‑sama paham, bahwa keselamatan sangat bergantung pada kehati‑hatian. Bukan karena tak ingin cepat pulang, melainkan karena sadar akan risiko jika ugal-ugalan. Namun ini bukan tentang risiko tabrakan.
Lampu merah memaksa kita berhenti. Untuk sesaat, kita berdiri sejajar tanpa bergerak. Dunia di sekitar tetap riuh, tetapi di antara kita ada sunyi yang padat. Tercekat di sela pita suara. Banyak kalimat berjejal di kepala, namun tak satu pun benar‑benar terucap. Kita hanya berusaha menatap lurus ke depan, memperhatikan arah. Namun ini bukan tentang lampu merah.
Ketika lampu berganti hijau, kita kembali melaju, kali ini dengan kecepatan berbeda. Salah satu dari kita memilih jalur yang berbelok lebih dulu. Bukan karena tak ingin terus searah, tetapi karena peta hidup masing‑masing sudah punya rutenya sendiri. Namun ini bukan tentang persimpangan.
Kita tahu, jika suatu hari nanti kembali berpapasan, suasananya mungkin tak persis sama lagi. Jalan mungkin lebih lengang atau justru lebih ramai. Kendaraan mungkin berbeda, tujuan mungkin berganti. Namun satu hal tak berubah, bahwa kita pernah berada dalam hiruk pikuk jalanan yang sama, pernah saling mengimbangi tanpa bicara apa-apa.
Pertemuan kita ini bukan tentang kebetulan di sore hari, bukan tentang kecepatan yang diatur, bukan tentang jarak yang ditempuh. Ini,, bukan tentang itu.
