Ibu-ibu itu

Sekelompok ibu sedang beribadah di tempat suci yang mengharuskan mereka menutup kepala dan menjaga perkataannya. Konon di tempat itu, yang MahaKuasa akan menyingkap segala tabiat hambanya.

Pada suatu ketika, seorang ibu mengatakan “Anak Ibu De itu lemot ya”, ibu lain hanya bisa mengucap “Astaganaga, Astaganaga”.. memohon pengampunan sang Kuasa. Mereka masih terikat pantang larang sebelum tiba masa menggunting kukunya. Mereka baru tiga hari bersama-sama.

Hingga akhirnya ibu yang lain menyatakan ketidaksenangannya dengan tindakan si ibu melabel orang tersebut, ibu itu malah menyangkal dan protes “memangnya saya tukang membicarakan orang?, itu saja pun dipermasalahkan”.

Pertanyaan itu sebenarnya retorika, seharusnya ditujukan kepada diri si ibu sendiri. Adakah menggunakan waktu membicarakan orang lain? Atau tidak ada? Mungkin nyaris tak sempat untuk itu karena terlalu sibuk dengan hal yang produktif? Ibu yang lain tidak dapat menjawabnya.

Lalu apa yang dimaksud dengan “itu saja”? Apakah itu hal sepele, remeh temeh bagi si ibu? Bagaimana jika Ibu De yang mendengar bila anaknya dikatakan lemot? Apakah si ibu yakin itu sepele? Bukan masalah?

Menurut penilaian ibu yang lain, anak itu sebernarnya cukup mandiri, bisa kesana kemari sendiri tanpa tersesat di antara lautan manusia, punya kemampuan bahasa asing yang baik juga.

Selanjutnya si ibu malah menyangkal dan mengoreksi,”saya tidak bilang lemot, cuma bilang lemes”. Okay, baiklaah. Penyangkalan itu dapat disimpulkan sebagai sebuah reaksi untuk mengurangi kecemasan. Dan koreksi itu sebagai usaha untuk mengurangi rasa bersalah. Ibu yang lain menganggapnya seperti itu.

Kata-kata yang sudah keluar tidak dapat ditarik lagi. Seperti kata pepatah, mulutmu adalah harimaumu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *