Percayakah Kau, sayangku, bahwa manusia dianugerahi dua pasang mata? Satu berguna untuk menuntun berjalan menyusuri dunia. Satu lagi untuk menuntunmu ke hakikat diri. Kembali ke tempat
di mana Kau akhirnya bisa mengenali diri sendiri.
Dua pasang mata manusia. Mata raga menuntun pulang ke rumah di sini. Ke denah yang dihafal langkah kaki, ke tumpukan piring di wastafel, ceria tawa anak-anak, pohon mangga di halaman. Namun, sayangku, dunia ini pada akhirnya akan berubah menjadi siluet yang perlahan menghilang. Tepat di saat itu, mata jiwamu akan melihat lebih terang. Membedakan kegelapan karena ketidakhadiran cahaya, dan kegelapan karena hati yang tak punya pelita.
Mata jiwa itu, menuntunmu pulang ke ruang yang tak butuh jendela, ke cahaya tak menyilaukan, ke sunyi yang ternyata penuh percakapan. Di sana, mata jiwa tak dapat tertipu. Lalu, Kau, akan dengan mudah mengenali senyum muslihat, kata-kata manis bak gulali, tangan-tangan yang menggenggam niat lain di sela jemari. Lalu, Kau akan tahu tarikan napas orang yang pura-pura peduli, irama bicara pura-pura tulus. Kau akan tahu bahwa orang-orang manipulatif tampak seperti gelombang yang tak akan pernah selaras dengan frekuensi tubuhmu. Pengarang cerita yang mengada-ada mudah sekali terbaca.
Mata jiwa menera cerita, menimbang beratnya, mencium niat di antara kalimat, membaca hal tak terucap di balik cerita membosankan yang diulang-ulang. Kau, tak lagi akan terpikat pada gurihnya bumbu cerita.
Saat cahaya mulai tampak samar, benda akan kehilangan tepinya. Kau akan belajar melihat tanpa bentuk, mengenali tanpa rupa. Sesungguhnya petunjuk jalanmu itu bukanlah mata yang mengenali wajah, melainkan mata yang mengenali kebenaran.
