Dahulu dikiranya tempat ini kelak akan menjadi tempat yang nyaman untuknya pulang. Rupa-rupanya dia salah. Kenyataannya, tempat ini sungguh kelam. Tempat ini bahkan tidak mengizinkannya untuk berisik. Lihat sekarang, yang ia rasakan hanya ketakutan. Setiap angin yang berhembus merupakan ancaman. Dan seperti biasanya, ia adalah satu-satunya yang bersalah.
Jangan tanya tentang suasana hati pada orang yang hatinya hampir sekeras batu. Jangan bercerita tentang sedih dan bahagia pada orang yang hampir mati rasa. Di sini, ia telah ditempa menjadi orang yang berbeda. Di sini pula, segala opini dan argumentasi tak punya arti. Melalui hari dan bertahan hidup, baginya sudah cukup. Tanpa bersuara, tanpa bercerita. Bukankah bahasa katak takkan sepenuhnya dipahami oleh berudu?
Di tempat tak ada doa dilantunkan, tidak ada tuntunan sebagai teladan. Seolah-olah segala yang suci telah pergi, berganti dengan amarah dan penghakiman. Tempat ini sungguh suram. Tempat ini lebih mirip penjara daripada naungan. Tak kenal maaf dan tak mengerti balas budi. Membawa diri di sini dituntut sungguh hati-hati. Berbicara, tak boleh sembarangan. Bahkan sekedar berkata panas di hari yang terik, dapat melucutinya dari rasa hormat.
Bagi jiwa yang bungkam dan kesepian, tidak ada keinginan untuk tinggal lebih lama. Setiap detik adalah harapan untuk pergi. Semakin lama waktu dihabiskannya di tempat itu, semakin ia rindu tempatnya tumbuh dulu. Bila ada kehidupan yang baru, ia pasti akan memilih tempat lain yang memperbolehkannya untuk berisik.
Ia mulai menuliskan harapan-harapannya di atas secarik kertas. Dengan tinta yang hampir pudar, mencoba merangkai doa-doanya. Menuju tempat baru di mana setiap detik bukanlah ancaman, melainkan sebuah kesempatan untuk merasakan kehidupan sepenuhnya. Menggambarkan sebuah tempat yang patut dirayakan. Tempat di mana tiap suara punya makna. Setiap kata yang diucapnya adalah mantra, pengingat bahwa ia harus hidup lebih lama.
