Ada yang istimewa dari semangkuk sayur bening. Ia jernih, apa adanya, tak banyak bumbu, tak neko-neko. Di balik kesederhanaannya, ia menyimpan filosofi hidup yang dalam. Kontras sekali dengan “jangan sebut namanya”, yang tidak bening, tidak sederhana, dan jelas bukan sayur. Lebih tepatnya, dia seperti panci kosong yang suka mengklaim masakan orang lain sebagai hasil karyanya.
Ah, “jangan sebut namanya” yang katanya sudah makan asam garam kehidupan, tampaknya lebih banyak makan hasil jerih payah orang. “Jangan sebut namanya” juga hobi mengutip etika profesional. Bicaranya ibarat audio book dari buku teks, seolah-olah dia adalah Mahatma Gandhi ala-ala. Setiap kali terjadi kegaduhan, dia akan muncul seperti jaksa dadakan dengan argumen panjang yang pada akhirnya menyalahkan semua orang… kecuali dirinya sendiri.
Entah kenapa, “jangan sebut namanya” selalu muncul saat ada acara. Tak peduli seberapa tidak relevannya, ia akan selalu muncul seperti daun salam dalam masakan. Tak terlalu penting, tapi harus ada. Keberadaannya dalam foto selalu lebih dominan daripada kontribusinya.
“Jangan sebut namanya” suka berbicara panjang lebar soal integritas. Kita ini harus jujur, blah.. blah… Katanya sambil menyuruh orang lain mengerjakan tugas yang selanjutnya dia ambil atas namanya. Ironis sekali. Dia penganut aliran “tak perlu banyak tahu, tapi tampillah paling depan, duduklah yang paling tinggi”, sambil mengaduk-aduk kredibilitas orang lain seperti sayur yang terlalu sering dipanaskan.
Kalau dilihat sepintas, “jangan sebut namanya” bisa membuatmu percaya bahwa dia adalah perpaduan antara biksu dan konselor spiritual. Sungguh itu adalah satu skill kamuflase yang belum bisa diajarkan di pelatihan manapun.
Kita semua bisa belajar dari sayur bening. Dia sederhana, bergizi, dan tidak pernah mengklaim lauk orang lain. Tak seperti sebagian mereka yang berlabel “jangan sebut namanya”, yang bahkan tak bisa membedakan kerja tim dan kerja paksa.
Jadi lain kali kalau kamu merasa lelah karena kerja kerasmu diambil alih oleh mereka yang hanya hadir di sesi foto terakhir, ingatlah kamu adalah sayur bening. Tak perlu ramai, tak perlu rusuh. Sejatinya kamulah yang membuat hidup ini tetap sehat. Karena pada akhirnya, yang bening akan terlihat. Yang keruh? Seiring waktu akan mengendap di dasar… tak bisa lagi muncul di permukaan.
