Penyakit Jantung Bawaan (PJB)

Beberapa hari lalu ada acara kumpul keluarga. Salah satu sanak saudara membawa bayi mungil cantik berumur tiga bulan. Bayinya sehat. Namun tidak demikian kondisinya pada saat ia lahir.

Saat lahir, ia membutuhkan rawatan di NICU selama hampir dua minggu. Dokter menyatakan ada kebocoran di jantung dengan diameter 3mm dari hasil pemeriksaan echocardiografi. Namun setelah dievaluasi lagi pada minggu kedua kehidupannya, lubang sudah menutup. Sehingga ia tidak memerlukan tindakan operasi.

Saat kami berkunjung setelah ia pulang dari RS, ibunya menyatakan bocor jantung PDA, ia tidak yakin juga. Lalu pada saat acara keluarga tersebut ia membahas perihal VSD.

Berbagai celotehan netizen sungguh menggelitik nurani sore itu. “Anak cantik begini kok dibilang sakit jantung ya, ada-ada aja dokternya”. “Nyankeuh,, boeh meunyoe saket jantong ek ne meuno”… dan berlanjut terus. Dalam hati cuma bisa bilang “Jangan begitu dong Cupo”… “Alhamdulillah ajaa meudeh, kan si bayi sudah sehat, tidak perlu dioperasi meunan”. Hadeeuuhh…

Patent Ductus Arteriosus (PDA) adalah masih terhubungnya dua pembuluh darah utama yang berasal dari jantung, yang seharusnya menutup pada saat lahir, saat terputusnya sirkulasi darah bayi dari sirkulasi darah ibunya. Sementara Ventricular Septal Defect (VSD) adalah lubang pada sekat pembatas dua bilik bawah jantung yang tidak menutup setelah bayi lahir.

Lubang ini, sebagai mana duktus tersebut, berperan sebagai jalan pintas aliran darah untuk langsung dialirkan ke seluruh tubuh bayi tanpa perlu melewati paru kecil yang belum berfungsi itu saat masih di dalam kandungan. Namun saat paru bayi sudah dapat berfungsi, maka rute aliran darahnya berubah. Jalur-jalur jalan pintas tadi akan menutup akibat perbedaan tekanan seiring parunya mulai megembang dan mengempis segera setelah lahir. Rute aliran darahnya sudah sama sebagaimana orang dewasa.

Darah yang kaya oksigen dari paru masuk ke serambi kiri jantung, lalu terisi ke bilik kiri, kemudian dipompakan ke seluruh tubuh. Aliran darah balik yang membawa karbon dioksida dari bagian-bagian tubuh itu akan kembali ke jantung melalui serambi kanan, lalu bilik kanan, selanjutnya dipompakan lagi ke paru untuk membuang karbon dioksida dan mengikat oksigen yang baru. Demikian seterusnya.

Apabila ada gangguan rute aliran darah berkaitan dengan masih terbukanya jalan-jalan pintas itu maupun kelainan anatomi jantung, maka darah bersih akan bercampur dengan darah kotor, jantung mungkin harus bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan tubuh. PJB dapat berlanjut menjadi penyakit jantung sianotik (disertai kebiruan) maupun asianotik (tanpa kebiruan). Selanjutnya akan mengganggu proses tumbuh kembang anak bila tidak mendapat tatalaksana yang sesuai.

Netizen dengan PJB yang lain, Penyakit Julid Bawaan, mungkin membutuhkan terapi yang lebih komprehensif. Sebaiknya jaga jarak!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *