Nakhoda Masaid

Namaku Wilda Mahdani binti Ridwan bin Juned bin Nyak Pa (Ja’far) bin Masaid (M. Said) dan seterusnya.

Ini sepenggal cerita tentang kakek dari kakekku. Ia adalah orang Meuraxa asli, seorang pelaut, pemimpin pelayaran pada masanya. Namanya dikenang sebagai Nakhoda Masaid.

Tentu saja kami tidak pernah bertemu, tapi sejarahnya masih terus diceritakan, setidaknya oleh anggota keluarga.

Pelayarannya yang terakhir kali bernasib sangat tragis. Waktu itu kapal mengangkat sauh dari Pulau Simeulu. Entah apa yang terjadi di tengah laut, semua orang yang ada di kapal itu mati terbunuh. Mungkin perompak, mungkin penjajah. Hanya spekulasi, tidak ada yang berani memastikan.

Ajaibnya, kapal tanpa nakhoda yang berisi jasad-jasad orang mati itu kembali merapat ke pelabuhan Ulee Lheue dengan sendirinya. Kembali ke tempat ia berasal. Konon mereka pun dikuburkan di belakang Mesjid Baiturrahim Ulee Lheue – Meuraxa oleh orang-orang di sana.

Bagi pembaca yang pernah mendengar kisah ini silahkan berbagi cerita di kolom komentar. Terimakasih..

Catatan: Nakhoda berbeda dengan Laksamana. Nakhoda memegang komando pada sebuah kapal, meliputi menilai kelayakan mesin, kecukupan bahan makanan, memberi perintah kepada juru mudi dan sebagainya yang berkaitan dengan pelayaran. Sementara Laksamana adalah pemimpin angkatan perang yang terdiri atas banyak kapal; satu atau beberapa armada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *