Anak Perempuan Semata Wayang

Duduk di tepi laut, seorang anak yang merindukan. Suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja. Namun tidak ada yang sungguh-sungguh memperhatikan. Angin laut, pasir lembut, dan suara ombak, membuatnya merasa lebih dekat. Berada di sana, membuatnya kembali merasa sebagai kesayangan. Tidak terlalu sendirian di dunia. Dalam bahasa tanpa suara, ia bebas berkeluh kesah tentang apa saja, bercerita tentang segalanya. Tidak ada yang salah paham. Tidak ada yang menyalahkan. Tidak ada yang menghakimi.

Saat ini tidak ada lagi yang sungguh-sungguh mencemaskannya. Tak seperti dulu bila ia terlambat pulang, pasti Ibunya sudah berdiri was-was di pinggir jalan. Tak seperti dulu saat ia sakit, pasti Ayahnya akan menjadi sangat cemas. Dulu, dia sangat istimewa. Anak bungsu, perempuan satu-satunya. Pusat perhatian di rumah. Senantiasa diusahakan untuk bahagia.

Sekarang, kebahagiaan yang dipahaminya selayaknya transaksi. Punya syarat dan ketentuan. Tidak banyak ruang untuk diskusi. Sudut pandangnya tidak terlalu relevan. Setiap kejadian ditafsirkan berdasarkan asumsi, lalu siapa saja bebas menghakimi. Perasaannya bukan hal yang penting lagi. Tapi siapa peduli, ia bisa melindungi hatinya sendiri. Ia paham sekarang, tak semua orang pantas punya tempat di situ. Digenggam hati itu rapat-rapat, dipeluknya erat-erat. Ia berharga. Jika ada orang dengan krisis empati, tak santun dan menyakiti, maka orang itulah yang salah. Seseorang telah tumbuh dalam pengajaran yang salah sehingga menjadi seperti itu.

Tidak apa-apa meski tak ada yang menanyakan kabarnya. Tak ada yang sungguh-sungguh memahami apa yang dialaminya. Tak ada yang cemas akan rambutnya yang makin banyak berguguran, penglihatannya yang makin buram, napasnya yang makin terengah-engah dan ingatannya yang makin pelupa. Ia akan tetap bertahan. Strive and survive. Orang lain hanya dapat memberikan apa yang dia punya. Orang yang tak bertanya, berarti memang tak punya rasa ingin tahu. Orang yang tak peduli, berarti memang tak punya perhatian. Ia tak akan menuntut apa-apa. Ia masih dapat mengandalkan dirinya sendiri.

Anak ini akan baik-baik saja. Ia kuat, ia berani, ia santun, walau sesekali lelah dan sedih. Begitulah menjadi anak perempuan di dunia ini, selalu ada siklus tubuh dan suasana hati. Ia akan terus belajar, beradaptasi dengan segala keadaan dan memperbaiki diri. Toh ia masih punya tempat itu yang bisa dituju. Tempat untuknya sedikit merasa lebih dekat dengan mereka yang telah pergi lebih dulu. Orang-orang yang telah membesarkan dan mengajarkannya ilmu di masa lalu. Sebagai bekal hidup dengan baik di dunia ini, agar mampu berdiri di atas kaki sendiri. Semoga Tuhan menyayangi dan memberi mereka tempat yang mulia karenanya.

Sudah dua puluh tahun sejak laut menjemput orang-orang itu. Anak ini, sekarang sudah dewasa. Tapi bukankah dalam pandangan mereka, anak ini tetaplah seorang gadis kecil? Mungkin begitu. Mungkin mereka pun melihatnya dari dimensi yang lain. Mungkin mereka pun mengutuk setiap perlakuan buruk kepada putrinya. Entahlah,, ia tidak apa-apa, ia akan baik-baik saja. Di sana, merasakan angin sore itu, mendengarkan suara senja itu, sudah cukup membuatnya merasa lebih gembira.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *