Hai, apakabar? Lama tidak kudengar kabar darimu. Semoga kau selalu dalam keadaan sehat.
Sudah seberapa banyak uban di kepalamu? Apakah gigimu masih baik-baik saja? Meskipun umurmu sudah banyak, bagiku senyummu tetap yang paling manis. Selalulah tersenyum seperti dulu, begitu setiap hari.
Seberapa melelahkan kah hari-harimu? Jaga kesehatan, kau tidak boleh sakit. Berikanlah badanmu cukup istirahat. Karena urusan ini hanya kau yang bisa mengerjakannya. Tahukah kau bahwa kau itu kuat sekali. Menurutku kau sangat tangguh. Aku sungguh bangga padamu.
Bagaimana Ayah dan Ibuk? Kupikir, mereka telah membesarkanmu dengan baik. Apakah kau sering berziarah mengunjungi mereka? Kapan terakhir kali kau kesana? Bersama siapa kau ke kuburan? Jikalau tak sempat, usahakan untuk tetap mengirimkan infaq terbaikmu atas nama mereka.
Kau sudah melewati banyak sekali peristiwa. Dan tahukah kau, kau telah melalui semua itu dengan baik. Teruslah begitu setiap hari. Tak usah kau hirau dengan orang yang tidak pernah mendukungmu, meremehkanmu, memperlakukanmu dengan buruk, membuat hidupmu terasa berat. Anggap saja mereka tidak pernah ada. Jika tak bisa demikian, maka tetaplah berbuat baik. Bukan untuk mengalah, namun untuk menunjukkan kualitas dirimu.
Sungguh aneh bukan, beberapa orang terlahir tanpa empati sama sekali? Orang dengan gangguan kepribadian ini ada dimana-mana. Semakin hari, semakin ramai saja. Bukan hanya di sekitarmu, tapi mereka berkeliaran di seluruh belahan dunia. Tugasmu hanyalah mengabaikannya, temukan orang-orang yang baik saja. Mereka yang selalu mendukungmu, mendoakan kebaikan dan kebahagiaan untukmu. Orang yang membuatmu merasa tidak berjuang sendirian.
Semoga Tuhan selalu melimpahkan RahmatNya kepadamu.
Sampai jumpa lagi,
Salam sejahtera selalu.
