Di sini, kami mengartikan kultur sebagai suatu prosedur menanam kuman untuk selanjutnya diidentifikasi (mengetahui spesiesnya) dan diuji kepekaannya terhadap antibiotik.
Kultur ini adalah pemeriksaan rutin di laboratorium Mikrobiologi Klinik. Jenisnya ada beberapa; kultur aerob, kultur an-aerob (kondisi inkubasi tanpa oksigen), kultur jamur, kultur TBC/TB, dsb.
Kultur TB tujuannya untuk mengidentifikasi spesies Mycobacterium, yang sesungguhnya bukan hanya TB. Banyak spesies NTM (Non-tuberculous Mycobacteria) atau MOTT (Mycobacterium Other Than Tuberculosis) yang lain, namun tetap saja disebut Kultur TB bukan Kultur Mikobakteri. Yasudahlah yaa..
By the way, setiap hasil kultur perlu diinterpretasikan dengan sangat hati-hati. Hasil positif belum tentu ada infeksi. Hasil negatif belum tentu tidak infeksi. Bingung?? Jangan.
Seorang klinisi layaknya seorang detektif yang harus mengumpulkan informasi sebanyak mungkin untuk memecahkan misteri (mendiagnosis penyakit pasien) dengan akurat. Setiap kemungkinan harus dipertimbangkan. Menyusunnya sesuai prioritas dan kemudian meyingkirkan satu per satu hal yang dirasa tidak mungkin.
Anamnesis yang tajam, pemeriksaan fisik yang akurat sangat penting, sama pentingnya dengan pemeriksaan penunjang. Klinisi harus punya modal pengetahuan dan kemampuan analisis yang baik.
Hasil kultur yang positif dapat diperoleh dari tiga kemungkinan; infeksi, kolonisasi dan kontaminasi. Untuk memastikannya suatu infeksi maka hasil kultur harus disandingkan dengan kondisi klinis pasien (tanda dan gejala penyakit yang diperoleh dari anamnesis dan pemeriksaan fisik), marker infeksi (diperoleh dari pemeriksaan penunjang), serta data pendukung lain, misalnya hasil pemeriksaan radiologis, dan sebagainya.
Marker infeksi yang umum dapat dilihat dari profil darah rutin, C-reactive protein (CRP) serial, maupun Procalcitonin (PCT). Dengan catatan bahwa marker ini dapat meningkat pada beberapa kondisi tertentu yang bukan infeksi. Oleh karenanya, perlu interpretasi hati-hati, pertimbangkan setiap kemungkinan.
Hasil kutur yang negatif belum tentu tidak infeksi. Kembali lagi bagaimana kondisi klinis pasien, marker infeksi, dan data pendukung lainnya. Jika diyakini suatu infeksi, maka selayaknya pasien mendapatkan terapi untuk infeksinya.
Jangan menghakimi hasil kultur yang tidak sesuai. Karena kuman sangat beragam, dan kapasitas beberapa laboratorium juga terbatas.
Kuman yang sulit ditumbuhkan (fastidious), jika jumlahnya sangat sedikit dalam spesimen maka tentu saja akan sulit sekali menumbuhkannya. Belum lagi kuman-kuman tertentu yang perlu suplemen khusus(seperti bakteri Haemophilus influenzae yang tumbuh pada media kaya perlu faktor pembekuan V dan X), perlu perlakuan khusus dan suasana khusus. Kuman-kuman ini tidak akan tumbuh pada media pertumbuhan yang biasa, kondisi inkubasi yang biasa. Mereka tidak suka yang biasa-biasa saja, mereka harus diperlakukan istimewa.
