Kau yang tak punya sanak saudara dan kerabat dekat, bagaimana rasanya menjadi sebatang kara? Apakah pada awalnya Kau seperti bisa mendengarkan suara-suara mereka? Suara yang kemudian semakin jauh laksana dengung serangga? Hingga akhirnya perlahan menghilang entah kemana.
Apakah Kau masih sering memimpikannya? Rumah itu tempat Kau tumbuh? Halaman dan tanamannya, ruang tamunya dan ibumu yang sedang menjahit? Isi lemarinya, jendela dan teralisnya? Apakah Kau merindukan saat menonton berita ataupun saat makan bersama mereka di sana?
Apakah Kau sungguh kesepian di dalam sana? Terlebih lagi saat Kau mendapatkan dirimu sudah mulai keropos dimakan usia? Tak usah terlalu merana. Kisah ini bukan cuma milikmu saja. Tahukah Kau, setiap orang memiliki versi masing-masing ujian hidupnya. Paling tidak, saat Kau sendirian, Kau lebih leluasa untuk berdua saja denganNya. Sang pemberi ujian itu.
Saat pagi tiba, Kau pergilah menjelajah dunia. Sang pengatur telah mempersiapkan banyak kegembiraan untukmu di luar sana. Kau hanya perlu menemukannya. Temukan, kumpulkan lebih banyak, berbagilah dengan sesama. Kau akan merasa berguna dan bahagia.
Namun bila kau belum berhasil menemukannya.., jangan berputus asa dari rahmatNya. Kau masih bisa bahagia dengan mensyukuri hal lainnya. Yang pernah ada dalam hidupmu, yang masih ada dan bisa yang sudah Kau lepaskan. Bisa dan luka yang dulu Kau bawa berlari.
Apapun yang terjadi, aku akan selalu mendukungmu. Dari sini, jauh, dekat, dari mana saja. Aku pasti akan menyisihkan waktuku, bila sesekali nanti Kau perlu seseorang untuk bercerita.
Karena kisah kita tidak jauh berbeda.
