Ada jeda yang mulai tumbuh di antara kata-kata, ada isyarat yang perlahan mengabur. Seseorang memilih diam. Seseorang yang lain memilih pergi, dengan sisa tanya yang tak pernah sempat disampaikan.
Dulu ketika hujan, di tempat itu dua pasang mata remaja pernah bertemu. Tak ada janji, tak ada rencana. Hanya secuil senyum gugup dalam diam, lalu berbunga dalam hati seperti sekuncup lili. Dari tempat itu, percakapan dimulai, asing, kikuk, tapi terasa akrab.
Sejak hari itu mereka saling bertukar cerita. Membicarakan langit yang tak pernah benar-benar biru. Berbagi kegelisahan tentang pagi yang selalu datang begitu cepat, malam yang seolah tak pernah cukup panjang. Saling bertanya kenapa bulan kadang tampak lebih sepi di malam terang. Kenapa hujan seperti membawa pesan yang tak pernah sampai.
Mereka saling membuka pintu-pintu yang tak tersentuh dunia. Dalam percakapan, mereka saling bercerita. Tentang masa kecil. Tentang mimpi tak masuk akal yang masih tetap diperjuangkan. Tentang rasa takut yang tak pernah berani diucapkan dengan lantang. Tentang kenangan yang belum sempat jadi masa lalu. Mereka juga saling mendengarkan.
Kadang mereka hanya mengamati lampu jalan yang berkedip lemah seolah kelelahan menahan terang. Mereka pernah tertawa saat hujan membasahi sepasang sepatu, lalu saling diam karena menyadari bahwa hati mereka sedang jatuh perlahan. Waktu seolah tak penting selama mereka bersama. Tidak ada hitungan menit atau jam, hanya keyakinan bahwa di sinilah seharusnya mereka berada. Bahkan dalam diam, mereka tetap merasa utuh. Tidak perlu banyak kata. Keberadaan sudah dapat saling mengisi.
Di antara segalanya, yang paling diingat adalah tawa. Bukan karena kocaknya lelucon. Namun karena ia muncul dari perasaan bahagia. Bahkan saat dunia terasa berat, hanya dengan saling bercerita dan menertawai hal remeh temeh, mereka bisa membuat hati menjadi lebih ringan, membuat hari menjadi lebih indah. “Kamu baik-baik saja?” bagi sebagian orang mungkin hanya basabasi belaka. Namun mereka, benar-benar saling peduli jawabannya.
Namun waktu, seperti hujan yang tak bisa dihentikan, terus berjalan. Ada jeda yang mulai tumbuh di antara kata-kata, ada isyarat yang perlahan mengabur. Seseorang tetap di tempat, sementara yang lain mengalah pada kenyataan. Seseorang memilih diam. Seseorang yang lain memilih pergi, dengan sisa-sisa tanya yang tak pernah sempat disampaikan.
Ketika musim kembali membawa hujan, seseorang itu datang lagi, berdiri di tempat yang sama, membawa setangkai lili yang kuyup. Ia berjumpa dengan kenyataan. Tak ada ruang untuk kembali, hanya kenangan yang membekas dalam dingin. Lili itu ditinggalkannya di bangku taman. Biarlah hujan meluruhkan segalanya.
Saat hujan turun dan kenangan kembali mengetuk, yang tertinggal bukan wajah, bukan juga suara. Yang membekas justru cara berbicara yang pelan penuh makna, tatapan mata, jalan pikiran, percakapan yang hanya dimengerti mereka berdua. Tidak ada yang bisa menggantikan kenyamanan yang tumbuh perlahan, seperti lagu lama yang terus didengar berulang kali dan tetap tak membosankan. Rupa akan memudar, tapi cerita-cerita yang pernah mereka bagi bersama tetap tinggal, seperti buku tua yang halamannya terus terbuka dalam ingatan.
Mereka mengingat hujan sebagai sesuatu yang indah, tak pernah menyakitkan. Walaupun dinginnya selalu berhasil menembus kulit yang makin keriput dan membuat tangan gemetar. Mereka percaya bahwa beberapa kesedihan tidak perlu disembuhkan. Ada rasa yang hanya ditakdirkan untuk singgah, seperti lili hujan yang mekar hanya sebentar, lalu gugur dalam senyap.
