Orang ini, aku sudah lupa nama panjangnya. Entah kenapa, nomor pelat mobilnya yang berwarna biru itu masih teringat jelas, BL 938 AJ. Ia mitra kerja Ayahku dulu, bisnis produksi dan jualan kerisik kelapa. Umurnya dariku lebih tua 13 tahun, tuturkatanya halus, budinya baik. Tubuhnya tinggi, ganteng, berkulit terang dan bermata sipit.
Setiap pulang kampung, ia selalu membawakan kami oleh-oleh sayuran. Di kota ini, dulu sebelum peristiwa tsunami, ia tinggal di daerah Kajhu bersama keluarganya; ibu dan kakak-nya.
Aku mulai mengenal orang ini sejak SMA meski waktu itu sebagian besar waktuku di asrama. Kami jarang bicara, hanya sesekali saja menyapa dan bertanya kabar. Semua informasi tentangnya adalah apa yang kuingat pernah disampaikan ibuk.
Orang ini termasuk dalam daftarku (orang hilang), setelah kejadian itu tidak lagi kutahu kabarnya. Pelat mobil itu juga tidak pernah kulihat lagi di jalanan kota.
Seperti yang lainnya, kemungkinan besar ia sudah tidak ada. Namun seperti kata orang, never lose hope. Aku berharap ia masih hidup. Hidup sepenuhnya, bersemangat dan bahagia.
Jika mungkin bertemu lagi, aku sungguh bersyukur dan pasti sangat senang.
Aku akan mengajaknya dan keluarganya makan siang di sebuah cafe di sudut Taman Sari. Di tempat dulu ia pernah menemuiku dengan bantuan sepupu pemilik tempat itu yang sering membantu ibuk menjahit.
Waktu itu ia berusaha menyampaikan suatu perihal amat penting. Meski sekarang semua itu sudah tidak penting lagi.
