Bukan Layla Majnun

Sudut Pandang Tuan

Rintik petang itu turun perlahan. Di perhentian yang sama, aku berdiri menanti bis yang sering datang terlambat, ditemani payung setia dan satu harapan kecil yang masih belum sirna. Dia datang lagi. Duduk di bangku sebelah. Dia membuka sebuah novel tebal dengan sampul warna hitam yang sudah lusuh di sudut-sudutnya. Seperti biasa, tanpa sembarang sapa. Tapi cukuplah dengan kehadirannya, dunia terasa sedikit lebih hangat walau gerimis mengguyur perlahan.

Aku mengenalinya hanya setakat pagi dan sore yang sama, perhentian yang sama, dan bis yang sama. Kadang-kadang kami saling tersenyum, kadang tidak. Tapi entah sejak bila, aku mulai menanti bukan saja bis, tapi juga dirinya. Pernah sekali aku mencoba menyapa terlebih dahulu. Menawarkan gula-gula. Dia menerimanya dengan sopan, mengangguk sambil mengucapkan terima kasih, lalu kembali menunduk membaca. Hatiku berbunga hanya karena satu ucapan ringkas darinya, dan malam itu aku terus tersenyum sendiri seperti orang bodoh.

Hari-hari berlalu, dan setiap senja menyimpan cerita baru dalam diamku. Aku mulai terbiasa dengan cara dia menyisir rambutnya, gaya duduknya saat kelelahan, cara dia tersenyum kecil bila membaca sesuatu yang lucu. Semuanya terekam kemas dalam ingatan. Sampailah satu hari, dia datang dengan senyuman yang lain. Ada cahaya pada matanya yang tidak seperti biasa. Tangannya menggenggam sebuah kotak kecil berlilit pita merah. “Dia kata ya” bisiknya perlahan, seolah bercakap dengan angin. Aku tersenyum. Ikut gembira, semestinya. Karena bukankah cinta adalah tentang menginginkan kebahagiaan orang itu, walaupun bukan dengan kita?

Dia naik ke dalam bis lebih awal, duduk di tepi jendela, sambil memegang erat kotak itu. Aku tertinggal di perhentian, bersama rintik hujan yang tiba-tiba terasa lebih dingin dari sebelumnya. Mungkin aku bukan tokoh utama dalam kisahnya. Mungkin aku cuma figuran yang muncul hanya beberapa detik sebelum babak selanjutnya. Tapi tidak mengapa. Ini bukan kisah Layla Majnun. Ini cerita seseorang yang mencintai dalam diam, dan belajar melepaskan tanpa dendam.

Sudut Pandang Puan

Perhentian itu selalu basah oleh sisa hujan. Dan Kau, senantiasa ada di sana, berdiri di sudut yang sama, memegang payung biru tua. Aku tahu Kau memperhatikan. Dari cara Kau menjeling diam-diam, dari senyuman canggung setiap kali aku tiba, dari sebiji gula-gula mint yang pernah Kau tawarkan, mungkin karena cara Kau memberikannya. Terasa istimewa. Tapi aku pura-pura tidak tahu. Aku terlalu selesa dengan diam ini, terlalu takut andai satu patah kata akan merusak semua irama yang sudah ada. Kita seperti dua orang asing yang saling kenal tetapi tidak pernah berbicara, dan entah mengapa, itu sudah cukup. Namun aku memilih untuk terus membaca buku, berpura-pura tenggelam dalam halaman, walau sesekali mataku sering mencuri pandang ke arahmu, hanya untuk memastikan Kau benar-benar masih di situ.

Kemudian hari itu tiba. Hari di mana aku memutuskan untuk berhenti menanti yang tidak pernah pasti. Seseorang datang dalam hidupku, menawarkan ruang yang tidak perlu kuterka-terka. Dan aku, lelah menunggu yang diam, menerimanya. Namun saat aku bilang “Dia kata ya” dan Kau hanya tersenyum… aku tahu, aku telah kehilangan sesuatu. Ada rasa hampa di dalam dada. Senyummu itu seperti ucapan tahniah yang tidak Kau ucapkan, tetapi aku rasakan sepenuhnya.

Sesungguhnya, Aku sangat ingin kembali. Duduk di bangku perhentian, bersamamu dan gula-gula mint yang  Kau ulurkan dengan canggung. Tapi kita bukan Layla Majnun. Kita tidak cukup gila. Kita terlalu diam untuk menjadi kisah yang besar. Dan di antara banyak hal yang aku sesalkan, adalah tidak pernah menanyakan siapa namamu. Aku ingin sekali bertanya, apakah Kau juga merindukan perhentian ini bila aku tak ada?

Bukan Layla Majnun

Bertahun-tahun selepas perhentian itu, selepas gula-gula mint, selepas senyuman canggung dan bis yang sering terlambat, aku duduk di sebuah kedai kopi kecil. Hujan turun lagi. Seolah-olah semesta sengaja mengulang suasana untuk hal-hal yang belum selesai. Di meja seberang, ada seseorang yang tersenyum kecil sambil membaca buku. Sampul bukunya hitam. Sudut-sudutnya lusuh. Dunia tiba-tiba terasa sangat akrab. Aku memperhatikan wajahnya. Sejenak mencoba mengenali garis-garis yang suatu masa dahulu kusimpan dalam diam. Lalu dia mengangkat wajahnya dan mata kami bertemu. Aku tahu, masa ini tidak banyak mengubah apa-apa. Dia tersenyum. Masih sama. Tapi kali ini, dia menyapa duluan.

“Kita pernah… selalu tunggu bis bersama, kan?” katanya, dengan nada sedikit ragu. Aku tersenyum kecil. “Di perhentian yang selalu banjir itu, ya”. Kemudian kami diam. Tapi bukan diam yang canggung. Diam yang selesa, seolah-olah akhirnya kami memahami semua yang tidak pernah terucap. Dia tidak memakai cincin. Aku juga tidak. Kami berbincang seketika. Tentang kerja. Tentang buku. Tentang hujan. Tiada bicara tentang masa lalu. Saat pelayan datang, aku tanpa sadar mengulurkan sebiji gula-gula mint dari saku jaketku, yang memang selalu aku bawa, dia tertawa.

“Masih suka bawa ini, ya?” tanyanya sambil tersenyum. Aku hanya mengangguk. Untuk pertama kalinya, kami bukan lagi figuran dalam kisah masing-masing. Akhirnya, ini bukan cerita tentang kehilangan. Ini hanyalah kisah yang memerlukan masa lebih lama untuk sampai ke tempat yang sepatutnya. Karena rupa-rupanya, tidak semua yang terlambat akan menghilang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *