Tuan Pasien Kusta

Gontai, Tuan berjalan menyusuri koridor.
Lorong rumah sakit masih panjang, sepi dan pucat.
Langkahnya pelan. Sendiri.
Tanpa sanak menemani, tanpa sanak menunggui.

Tadi itu, dokter ahli menegurnya.
Kenapa Tuan baru datang lagi? 
Sudah berapa lama Tuan tidak kemari?
Tuan hanya menunduk.

Tuan terlambat bukan karena tak sempat. 
Bukan pula karena alpa, lupa. 
Nyonya melarang Tuan datang berobat.
Istrinya malu, punya suami sakit kusta.

Tuan sering bertanya dalam hati,
Tuan masih bertanya-tanya hingga kini,
kapan tubuhnya mulai dirasuki,
Tuan tak menemukan jawaban.

Tuan sungguh tak tahu,
kapan semua itu bermula.
Sejarah tak mencatat. 
Tak pula ada petunjuk maupun tanda.
Tak pula ada yang memberitahunya.

Yang tuan ingat,
suatu hari tubuhnya mulai kehilangan rasa,
perlahan bercak-bercak putih muncul di lengan,
perlahan luka-luka kecil, 
perlahan basah, berair.

Semua baru terasa saat tuan menua,
ketika tuan mulai terbiasa,
dengan lelahnya urusan dunia,
dengan tubuh yang perlahan semakin lemah.

Dokter berkata,
kuman kusta dapat bersembunyi lama,
sebelum menunjukkan gejala.
Entahlah, entah berapa lama sudah,
kusta hidup diam-diam di dalam dirinya.

Ada rasa lain yang luput diperiksa.
Tatapan orang. 
Bisik-bisik.
Pintu-pintu tertutup.
Orang-orang menjaga jarak.
Istrinya yang malu.

Itu semakin membuatnya sakit.
Sakit itu tidak hanya merenggut indera,
tak hanya kebas bagian tubuhnya.
Hatinya pun kini baal terasa.

Kusta sempat membuat Tuan 
tak lagi merasa berharga.
Rasa gelisah menyusup pelan,
di bawah kulit yang telah hilang rasa.

Hari itu Tuan diberkati secercah harapan,
Dokter bilang sakit ini ada obatnya.
Namun butuh waktu entah sampai kapan.
Tidak apa-apa,
Tuan akan menjalaninya.

Tidak apa meski sendiri. 
Tuan akan tetap berobat. 
Tuan akan merawat sakitnya. 
Tuan akan menjaga dirinya. 

Tak penting lagi bagi Tuan,
apakah orang lain masih bisa menerima. 
Dirinya pantas untuk diselamatkan, 
meski tanpa dukungan. 
Tuan terus berjalan meninggalkan koridor.

Kusta, tak memberhentikan Tuan sebagai manusia.
Jiwanya masih peka,
masih mampu memaafkan,
dan masih berharap untuk pulang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *