Tempat Singgahan

Cepat atau lambat, entah bagaimana caranya, kita pasti akan berpisah. Mengucapkan selamat tinggal pada tempat ini yang kita namai dunia. Sejak awal, barangkali kita sudah tahu itu, tapi tidak benar-benar hendak mengakui. Kita tumbuh dengan keyakinan bahwa hari esok akan selalu datang, bahwa orang-orang yang duduk di samping kita hari ini akan tetap ada besok pagi. Padahal, pada setiap pertemuan sudah tertera sebuah perpisahan.

Dunia ini, pada akhirnya, hanyalah sebuah tempat singgahan. Kita hadir di sini silih berganti. Ada yang duluan, ada yang belakangan. Meskipun ada yang datang di waktu berbarengan, beberapa mungkin tetap tinggal sejenak, atau sudah lebih dulu berangkat tanpa sempat mengucap salam.

Di tempat ini, kita memiliki kecenderungan untuk mencintai hal-hal fana. Kita menggenggam erat tangan yang suatu hari harus kita lepaskan. Kita menata rumah, menanam pohon, membeli buku, mengumpulkan foto, seakan-akan semua itu akan lama bersama kita, seolah-olah kita punya hak kepemilikan penuh atas apa pun itu. Padahal, kita hanya menitipkan diri kita sebentar di sana. Pada rumah-rumah itu, di kota-kota itu, di kebun-kebun itu, di pelukan orang-orang itu.

Ada saat-saat tertentu ketika kesementaraan ini terasa lebih jelas. Ketika kita berdiri di pemakaman, memandang batu-batu kaku. Lalu menyadari bahwa kita pun, cepat atau lambat, harus pergi. Singgahan bukan untuk selamanya. Singgah berarti tidak melekat, tidak ada keabadian di situ. Singgah selayaknya bernaung memakai tempat itu seperlunya sekadar untuk istirahat. Mengumpulkan bekal untuk kembali dengan menolong orang lain, menahan diri dari perbuatan buruk, dan memperbanyak amal kebajikan.

Di sini, kita diberi kesempatan untuk saling menemukan, meski tahu akhirnya harus saling melepaskan. Kita diberi waktu untuk belajar tersenyum di tengah rasa takut, untuk memaafkan meski tidak semua luka dapat dilupakan, untuk mencoba lagi meski kita tahu kegagalan selalu punya peluang yang sama besarnya dengan keberhasilan.

Jangan terlalu erat menggenggam. Kita datang dengan tangan kosong dan akan pergi dengan tangan kosong pula. Yang tertinggal hanyalah jejak bagaimana dampak kehadiran kita terhadap hidup orang lain. Apakah akan diingat sebagai seseorang yang baik, mungkin sebagai tokoh antagonis, mungkin hanya sebagai nama yang samar-samar terdengar dalam obrolan. Tidak ada yang benar-benar bisa kita pastikan, selain bagaimana kita memilih untuk bersikap hari ini.

Tempat singgahan ini juga mengajarkan bahwa tidak semua orang akan berjalan di sisi kita sejauh yang kita harapkan. Ada yang hanya lewat cuma sebentar, mengucapkan satu dua patah kalimat yang kemudian kita ingat sepumur hidup. Ada yang berjalan bersama bertahun-tahun, namun tidak bisa memberi makna. Ada yang tetap tinggal di hati kita lama meski sosoknya tidak lagi ada.

Pada suatu hari yang belum kita ketahui tanggalnya. Mungkin saat itu langit sedang cerah, mungkin sedang hujan. Mungkin kita sedang bersama seseorang, mungkin sedang sendiri. Dan seketika itu pula, kita akan menoleh sebentar ke belakang, memandang tempat singgahan ini, kota-kota yang pernah kita tinggali, wajah-wajah yang pernah kita cintai, luka-luka yang pernah kita tangisi, dan tawa-tawa yang pernah kita bagi. Semua terasa singkat.

Tak penting seberapa lama kita tinggal. Melainkan tentang bagaimana kita mengisi waktu di dalamnya. Apakah kita sekadar duduk menunggu dengan resah, atau kita memilih berdiri, berjalan, menyapa, membantu, mencintai, dan melepaskan. Kita hanya musafir yang mampir sebentar sebelum menuju tujuan akhir. Tapi selama kita masih di sini, selama napas masih naik turun di dada, kita bisa menjadikannya sebentar yang memiliki arti.

Biarlah tempat singgahan ini menjalankan fungsinya. Menyatukan orang-orang lewat, agar mereka saling menemukan, menghangatkan, sebelum masing-masing melanjutkan perjalanan ke tujuan yang tak sepenuhnya bisa mereka mengerti. Tugas manusia adalah untuk berbenah, menyiapkan bekal, lalu kembali melanjutkan perjalanan. Persinggahan ini sangat singkat, di sini kita tidak bisa sepenuhnya pulang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *