Menakar rasa manusia

Seberapa dalam seseorang bisa jatuh cinta? Dia ingin memahami batas dari hatinya. Ia pernah berusaha untuk suka pada seseorang, namun pada akhirnya ia sudah hilang rasa. Orang itu senantiasa menyakitinya, hingga ia bahkan tak lagi menaruh harapan karena terlanjur kecewa. Rasa suka yang pada awalnya ia harapkan akan semakin bertambah, menguap hilang begitu saja. Seberapa banyak seseorang bisa menyukai orang lain?

Kenyataannya, tidak semua orang mampu mencintai dengan cara yang sama. Ada hati yang sejak awal sudah penuh luka, ada jiwa yang terbiasa waspada karena berkali-kali disakiti. Ia masih mampu menyukai seseorang, tapi rasa itu tak lagi mengalir bebas seperti dulu. Orang seperti itu ragu untuk melepas kendali, ragu untuk percaya bahwa kebahagiaan bisa bertahan lama.

Ia pernah memberikan waktu dan harapan, namun terlalu sering ia menerima balasan berupa kekecewaan. Dari pengalaman-pengalaman itu, ia belajar bahwa cinta bisa menghangatkan, tetapi juga bisa menyakitkan. Harapan itu perlahan lenyap, karena ia kelelahan menampung luka yang terus datang tanpa jeda.

Tidak ada alat ukur yang mampu menakar rasa manusia. Tidak ada timbangan yang mampu menimbang rindu, tidak ada penggaris yang bisa mengukur kedalaman cinta. Seseorang bisa menyukai orang lain sebanyak ruang yang ia izinkan untuk ditempati dalam dirinya.

Pada awalnya, rasa suka hanyalah sebuah percikan kecil. Ketertarikan pada cara berbicara, kesan pertama yang menimbulkan senyum tiba-tiba, atau kehadiran yang membuat suasana terasa berbeda. Namun perlahan, percikan itu bisa tumbuh menjadi nyala yang lebih besar. Ia mulai memikirkan seseorang tanpa disuruh, menunggu pesan tanpa sadar, memeriksa kehadiran tanpa alasan.

Yang menarik, setiap manusia memiliki kapasitas berbeda-beda. Ada yang mencintai seperti sungai besar yang mengalir deras, memberi kehidupan bagi apa pun yang dilewatinya. Ada pula yang mencintai seperti tetesan embun, pelan, hati-hati, tapi tetap mampu membuat pagi terasa lebih syahdu. Kapasitas ini dibentuk oleh pengalaman, luka, keberanian, ketakutan, dan harapan. Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk, yang ada hanyalah perjalanan yang masing-masing orang tempuh dalam memahami hatinya sendiri.

Hatinya menutup bukan karena benci, tetapi karena ingin bertahan. Ia mampu menyukai seseorang, namun tak lagi sepenuhnya berani jatuh. Ia mengukur, menilai, mempertimbangkan. Sesuatu yang dulu hanya dilakukan oleh bagian dirinya yang ingin aman dari bahaya. Sistem siaganya selalu aktif, seperti tubuh yang menyiapkan diri sebelum luka berikutnya muncul. Ia berjaga, berharap sambil setengah percaya, memberi sambil tetap menyimpan ruang untuk mundur.

Sebenarnya ia masih ingin percaya. Bahwa cinta yang berbeda mungkin masih ada. Cinta yang tidak memaksa, tidak menyakiti, tidak menuntut dirinya berjalan di atas pecahan kaca. Cinta yang tidak membuat tubuhnya terus berada dalam keadaan bertahan hidup. Cinta yang bisa membuat jiwanya beristirahat. Sistem parasimpatisnya dapat bekerja dengan baik. Bukan seperti sebelumnya, di mana ia harus selalu siaga, menunggu rasa sakit apa lagi yang akan diterima.

Pertanyaan tentang seberapa banyak dan seberapa dalam bukan tentang orang lain. Seberapa sanggup ia membuka ruang? Seberapa berani ia untuk percaya? Seberapa siap ia mencintai? Cinta tidak pernah menuntut batas yang pasti. Ia hanya meminta keberanian dan kerelaan untuk tumbuh bersama. Dan mungkin, pada akhirnya, seseorang bisa menyukai orang lain sebanyak kemampuan orang itu menghargai kehadirannya. Seseorang bisa jatuh cinta sedalam keberanian orang itu untuk menjaga hatinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *