Langit biru tampak bersih seperti kain baru dicuci. Matahari bersinar. Hari terang. Burung-burung menyanyi, pohon-pohon bergoyang pelan, dan angin membelai wajah orang seperti belaian ibu. Hujan turun waktu itu. Apakah saat hari cerah, tandanya hujan turun dengan gembira?
Seseorang duduk terdiam. Tak ikut menyanyi, tak ikut menari. Hatinya tak seperti cuaca di luar sana. Matanya mendung. Ia mematung di balik jendela, memandang langit yang tak tahu apa-apa tentang perasaannya. Cerah. Namun baginya, itu cuma selembar langit kosong. Tak ada rasa, tak ada harapan. Seolah dunia bersepakat merayakan kebahagiaan, dan dia satu-satunya yang tidak diundang. Ia lelah berjalan pelan di lorong waktu, sementara dunia berlari cepat. Saat matahari mengajak segala hal untuk bersinar, ia satu-satunya bayangan yang tersisa.
Namun dia selalu suka hujan, hujan hari itu dan hari-hari yang lalu. Hujan membuatnya lebih tenang, membuat napasnya lebih pelan. Sering kali, hujan menjadi pelipur laranya daripada matahari yang panas menyilaukan. Bukankah hujan yang turun di hari cerah adalah kontradiksi yang indah? Seperti embun yang jatuh di musim kemarau. Seperti dia yang tak tahu harus ke mana membawa keluh kesahnya, selain pada langit yang sabar mendengarkan, meski tak pernah menjawab.
Ia ikut bahagia atas rumput yang menjadi basah. Atas daun-daun yang kembali segar setelah sekian lama menahan debu. Hujan bukan sekadar air yang jatuh, tapi restu agar bumi bisa bernapas kembali. Hujan menyapu jalan-jalan penuh jejak, membersihkan luka-luka yang tak sempat dilihat oleh siapa pun. Hujan datang untuk memulai ulang. Ia membawa harapan dalam bentuk sejuknya angin, harum tanah, dan gemericik menenangkan.
Apakah hari itu, hujan turun dengan gembira? Adakah yang tahu bahwa di balik kecerahan itu, kelopak mata kecil menyembunyikan airnya yang belum sempat jatuh? Kadang ia sungguh berharap hujan turun di saat seperti itu. Ia ingin langit menangis bersamanya. Ia ingin angin membawa pergi keresahan yang menggumpal di dada. Ingin mendengar suara rintik sebagai pengingat bahwa langit pun bahkan tak sanggup menahan air selamanya. Siapa yang bisa benar-benar melarang air untuk jatuh?
Ada hal yang ingin ia katakan setiap hari, tapi tak tahu bagaimana. Kadang, ia tersenyum hanya karena lelah menjelaskan betapa berat hari-hari yang dijalani. Sayangnya, tak semua perasaan bisa diterjemahkan menjadi kata. Beberapa hanya bisa diresapi, seperti gerimis yang jatuh. Dan di tengah sunyi yang tak bisa ia jelaskan, ia hanya duduk memandangi langit, membiarkan dadanya tetap mendung. Jika langit saja diberi kesempatan untuk menangis saat cerah, mengapa manusia tidak? Mengapa ia harus selalu terlihat kuat?
Ya sudahlah,, biarkan saja semuanya demikian. Setelah hujan reda nanti, ia akan belajar lagi melihat cerah dengan cara yang berbeda. Ia akan belajar lagi untuk bertahan tanpa kehilangan diri sendiri. Ia akan belajar mengikhlaskan apa yang tak lagi bisa dipendam.
