Belasungkawa

Orang bilang waktu akan menyembuhkan segalanya. Tapi bagaimana jika luka itu tak pernah benar-benar menutup? Bagaimana jika yang tersisa bukan hanya rasa kehilangan, tapi juga tanda tanya yang sepertinya tak akan pernah terjawab?

Aku yang kehilangan mereka… tidak pernah benar-benar melihat kepergiannya. Tidak ada selamat tinggal, tidak ada perpisahan utuh. Hanya kabar sekilas, singkat, dingin, tanggung, terasa menggantung. Tidak ada momen terakhir. Tidak ada pelukan terakhir. Tidak ada lambaian terakhir. Seperti tidak nyata, seperti sebuah cerita yang dipaksakan untuk diterima. Bagaimana mungkin aku bisa menyelesaikan proses berduka, jika aku bahkan tidak yakin kapan benar-benar harus memulainya.

Orang bilang aku harus ikhlas. Tapi bagaimana caranya merelakan orang-orang yang kepergiannya terasa samar? Dalam pikiranku mereka selayaknya pergi sebentar, masih berharap mereka pulang. Ada harap yang tetap menunggu langkah kaki di depan pintu, panggilan akrab, atau sekadar panggilan dari kejauhan. Mungkin ini adalah sebuah cara merawat kewarasan. Dengan menyisakan ruang di dalam dada. Bukan hanya untuk mengenang, melainkan juga untuk kemungkinan yang tak pernah diucapkan. Ini bukan soal tak mampu menerima, melainkan tidak adanya kesempatan untuk benar-benar mengucapkan selamat tinggal.

Orang bilang kehilangan datang seperti gelombang besar yang tak pernah benar-benar siap kita hadapi. Meskipun kita tahu bahwa suatu saat perpisahan akan datang, namun saat itu tiba tanpa aba-aba, dunia seolah berhenti. Aku masih ingat hari itu. awal dari sebuah perjalanan untuk menyelesaikan rasa kehilangan.

Langkah pertama adalah menempuh tahap penolakan. Pikiran menolak kenyataan karena hati belum siap. Aku terus menunggu sesuatu yang aku tahu takkan datang. Menolak terasa lebih mudah daripada menerima kekosongan yang tiba-tiba muncul.

Selanjutnya tahap kemarahan. Aku marah, pada waktu yang terlalu singkat, pada dunia yang tidak adil, pada diri sendiri yang tak melakukan cukup banyak. Kemarahan itu meruah dalam tangis yang tertahan, dalam doa yang penuh tanya.

Setelah itu aku mulai berandai-andai. Mencoba menyusun ulang kejadian, seolah bisa mengubah akhir cerita. Kalau saja begini… kalau saja begitu… Tahap tawar-menawar ini adalah upaya mental mencari jalan keluar dari luka, walau tahu semua itu hanya khayalan picisan yang tak akan jadi nyata.

Kemudian keheningan datang. Tak ada lagi penolakan, hanya hampa. Hari-hari sungguh sepi meski dunia terus berputar. Tahap depresi tidak selalu berupa air mata, tapi rasa kehilangan yang diam-diam mencuri warna dalam hidup. Aku masih tersenyum, masih menyapa orang. Namun di dalam, ada sebagian diri yang belum kembali.

Waktu yang berjalan perlahan itu, tidak menyembuhkan seketika. Ia memberi ruang. Sedikit demi sedikit, pelan-pelan, pada akhirnya aku mulai menerima. Kembali melanjutkan hidup dengan kehilangan itu. Berusaha mengizinkannya menjadi bagian dari diriku. Kesedihan bukan lagi untuk dilawan, aku duduk bersamanya, belajar untuk berdamai dengannya.

Perjalanan berduka ini bukanlah garis lurus. Sesekali aku kembali ke fase-fase sebelumnya. Dan itu tidak apa-apa, boleh-boleh saja. Berduka adalah bukti bahwa kita pernah mencintai. Meski raga mereka tiada lagi, cinta sejati akan selalu tinggal dalam hati. Karena dalam perjalanan berduka ini bukan hanya tentang kisah kepergian, tapi juga semua kisah dan kenangan indah yang pernah ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *