When life gives you boh rambee, jangan dibuang. Jangan kau tanya pula kenapa bukan durian. Jangan kau kecewa kenapa bukan manggis. Terimalah. Rasakan. Syukuri. Karena mungkin, itulah bentuk hidup sederhana yang sedang semesta titipkan padamu. Dan dari situ kau akan belajar bahwa hidup tak perlu megah untuk jadi menyenangkan dan layak dikenang.
Di ujung sebuah kampung tua yang sudah lama tidak disebut-sebut dalam berita, ada sepetak kebun yang tidak dipagari, tidak pula dimiliki siapa-siapa. Tempat itu tidak punya papan nama. Namun setiap embun tahu jalannya. Setiap burung tahu dahan tempat hinggapnya. Dan di antara semak, akar, dan perdu yang tumbuh liar, berdirilah sebatang pohon rambee. Tersembunyi, diam, kecil, tak pernah menuntut perhatian.
Ia tak besar, tak pula tinggi menjulang seperti pinang. Tak harum seperti melati. Tak mempesona seperti flamboyan yang meledak warna merah setiap musim kemarau. Tapi pohon itu tetap berdiri. Tahun ke tahun. Hujan ke hujan. Badai ke badai. Ia hanya tumbuh karena itulah yang ia tahu.
Buahnya tidak memikat dari kejauhan. Tidak cerah, tidak menarik, tidak mengkilap. Tapi ketika tanganmu menyentuh kulitnya, ketika kau cium aromanya yang samar, dan ketika gigitan pertamamu bertemu rasa masam-manis yang meluncur pelan ke lidah, kau akan mengerti sesuatu. Buah ini istimewa, walau tak menjadi favorit. Ia adalah karunia dari Tuhan.
Dan jika kau pernah duduk di bawah pohon rambee saat hujan gerimis datang dari bukit barat, kau mungkin akan terkenang masa-masa kecilmu dahulu. Kau mungkin akan merasakan kembali bisikan itu. Sederhana itu cukup. Memberi itu mulia. Diam pun adalah kebajikan, ia bisa mengajarkan hikmah.
Ada musim-musim ketika pohon itu penuh buah, tangkainya menunduk menahan beban. Tapi tidak ada orang yang datang memetik. Tidak ada anak-anak yang bermain di bawahnya. Tidak ada nenek-nenek yang membawa keranjang. Buah-buah itu jatuh satu-satu ke tanah, dimakan semut, dilahap cacing, dan perlahan menghilang menjadi tanah yang lebih hidup dari sebelumnya.
Dan ia tidak marah. Tidak kecewa. Tidak menyesali kenapa ia berbuah sia-sia. Sebab bagi pohon rambee, setiap buah yang jatuh adalah bagian dari takdir yang lebih besar. Sebab buah yang tidak dimakan hari ini, mungkin akan jadi benih esok hari. Sebab tanah yang menelan rasa asam hari ini, mungkin memberi manis pada musim yang akan datang.
Di dahan-dahannya, burung-burung kecil membangun sarang dari jerami dan daun kering. Angin laut dari barat membelai seperti ibu meninabobokan anak bungsu. Awan-awan yang berarak dari Samudra Hindia menumpahkan gerimis di pucuknya tanpa pernah ditolak. Pohon itu menerima segalanya. Panas, hujan, diam, dan sepi. Tak ada yang ia tolak.
Ia tahu, hidup bukan soal jadi yang paling berkilau, tapi bagaimana bertahan untuk tetap tumbuh. Bukan tentang berapa kali mendapat panggung, tapi berapa banyak kita memberi. Boh rambee tidak akan kau temui di pusat kota. Ia tidak dijual dalam plastik mika di jajaran rak buah swalayan ternama. Ia mungkin hanya ada di pekarangan rumah-rumah yang ditinggal merantau. Di sela pagar sekolah yang catnya terkelupas. Di belakang surau, di samping jalan tikus, di mana rumput lebih banyak dari jejak kaki. Di keranjang sepeda tua di sudut pasar di kampung.
Di musim-musim di mana pohon lain meranggas, pohon rambee tetap bertahan. Daunnya mungkin tak segar, batangnya mungkin berlumut, tapi ia tidak menyerah. Karena ia tahu, kehadirannya bukan sekadar soal musim. Tapi tentang bagaimana ia bertahan meski tak dianggap. Tentang bagaimana ia tetap memberi, meski tak dihargai. Boh rambee yang tidak viral, tidak mahal, tapi selalu terasa hangat. Selayaknya ingatan tentang kampung halaman yang tak pernah berubah, meski pohon-pohon itu sudah hampir punah.
