Bukan rindu, itu candu!

Ada sesuatu yang salah dari caraku mengingatmu. Bukan indah seperti kenangan, tapi gelisah seperti kekurangan. Kata orang, itu rindu. Tapi kurasa ini lebih liar dari itu. Rindu sejogyanya masih punya jeda, masih tahu cara berhenti. Sedang aku, seolah menagih sesuatu. Aku pun pernah mengira gelisah ini hanyalah rindu, sampai sadar bahwa rindu menuntun pada pertemuan, sedangkan ini menuntun pada pengulangan yang sia-sia. Ada sebuah kesalahpahaman antara kehilangan dan kecanduan.

Aku tidak merindukanmu. Aku terjebak pada sebuah kebiasaan, sebuah kebutuhan yang hanya pantulan dari kehilangan. Rindu adalah cahaya yang menuntun pulang, candu adalah api yang membakar tanpa arah. Rindu mengajarkan kesabaran dan makna, candu mengajarkan ketergantungan dan kehampaan. Dan aku tersesat di antara keduanya, salah menafsirkan. Di sinilah letak paradoks manusia, ia bisa merindukan sepenuh jiwa, namun tak pandai berhenti menagih yang telah tiada.

Rindu adalah bentuk cinta yang kehilangan tempat untuk pulang. Rindu seperti hujan pertama. Menyentuh lembut, membawa deras yang sulit ditahan. Dalam rindu, ada kenangan yang menolak tidur, ada bayangan yang tak mau pergi, dan ada jiwa yang diam-diam ingin kembali ke waktu itu. Rindu membuat detik terasa panjang, membuat malam terasa lebih sunyi dari biasanya. Ia adalah jarak antara dulu dan sekarang, antara ada dan tiada.

Namun di sisi lain, candu adalah versi gelap dari rindu. Jika rindu menumbuhkan, candu menggerogoti. Ia bukan lagi tentang kenangan, melainkan tentang ketergantungan. Tentang sesuatu yang seharusnya cukup, tapi tak pernah benar-benar cukup. Candu adalah rindu yang kehilangan kesadaran. Ia tidak lagi ingin mengenang, hanya ingin memiliki. Candu membuat seseorang terus kembali, bahkan ketika tahu bahwa yang ia kejar bisa melukai. Jika rindu adalah kesetiaan hati, candu adalah ketamakan jiwa. Dan di antara keduanya, manusia terjebak antara ingin merasakan, dan takut kehilangan.

Dan begitulah, aku mulai paham bedanya. Rindu ingin bertemu, candu tak ingin sembuh. Rindu berakar dari kasih, candu berasal dari kekosongan yang dibiarkan tumbuh. Rindu menuntun pulang, candu menjerumuskan lebih jauh. Maka bila suatu hari kau melihatku masih menulis tentangmu, jangan kau kira itu cinta. Mungkin saja aku hanya sedang sakau. Pada bayangan, pada suara, pada kemungkinan yang tak pernah nyata. Aku bukan sedang merindukanmu. Aku hanya sedang ketagihan kehilanganmu.

Rindu dan candu, dua kata yang tampak berbeda, namun keduanya sering menyatu dalam ruang yang sama. Hasrat untuk kembali pada sesuatu yang pernah membuat kita hidup sentosa. Meskipun rindu dan candu sering dianggap mirip secara emosional, secara neurobiologis keduanya punya mekanisme dopaminergik yang berbeda dalam otak manusia. Dopamin itu, zat kecil yang membuat manusia terus mengejar hal yang sama, walau tahu akhirnya akan kehilangan. Dopamin bukan hormon kebahagiaan seperti sering dikira. Ia sebenarnya lebih tepat disebut neurotransmiter motivasi dan harapan. Dopamin bukan soal senang, tetapi soal mengharapkan atau mengejar sesuatu.

Mari kita bahas ini dari sisi neurosains dan psikologi afektif.

Rindu (longing, yearning) muncul saat kita kehilangan atau terpisah dari sesuatu/seseorang yang bermakna secara emosional. Saat itu, sistem dopamin mesolimbik aktif secara fluktuatif. Otak mengeluarkan dopamin bukan karena kepuasan, tapi karena antisipasi mengharapkan pertemuan kembali, atau mengingat pengalaman menyenangkan masa lalu. Ada keterlibatan sistem oxytocin (ikatan emosional) dan insula (rasa kehilangan). Rindu menimbulkan dorongan ingin mendekat, tapi tetap diimbangi oleh kesadaran dan kontrol kortikal yang baik. Secara fisiologis jantung berdebar, sulit tidur, mood fluktuatif, tapi masih dalam konteks afeksi yang adaptif. Dopamin pada rindu meningkat secara sementara, intermittent release, berperan sebagai motivator emosional untuk koneksi sosial.

Candu (addiction, craving) menyebabkan aktivasi berlebihan dan kronis dari jalur dopamin mesolimbik. Zat adiktif (misal nikotin, narkotika, bahkan perilaku seperti judi atau media sosial) memicu lonjakan dopamin besar dan cepat ke nucleus accumbens. Lama-kelamaan, reseptor dopamin menurun sensitivitasnya. Sehingga otak butuh lebih banyak stimulasi untuk mendapat sensasi yang sama. Terjadi ketergantungan biologis, bukan lagi sekadar keinginan emosional. Hal ini mengakibatkan dorongan kuat yang tak terkendali (compulsive seeking) serta kehilangan kontrol kognitif karena prefrontal cortex yang melemah fungsinya. Bila tidak mendapat stimulus akan muncul withdrawal symptoms (gelisah, anhedonia, depresi). Dopamin pada candu meningkat secara berlebihan dan kronis, lalu mengalami penurunan fungsi reseptor dan menyebabkan siklus ketergantungan.

Perbandingannya secara ringkas kurang lebih sebagai berikut:

AspekRinduCandu
PemicuKehilangan, keterikatan emosionalZat atau perilaku dengan efek euforia
Jalur dopaminAktivasi moderat dan sementaraAktivasi intens dan berulang
Daerah otak dominanNucleus accumbens, amigdala, prefrontal cortexNucleus accumbens, VTA, orbitofrontal cortex
Reseptor dopaminNormal, fluktuatifDownregulasi (penurunan sensitivitas)
Efek emosionalKerinduan, harapan, motivasi sosialKetergantungan, kehilangan kontrol
Adaptif atau tidakAdaptif (mendorong koneksi)Maladaptif (merusak kontrol diri)

Rindu adalah ketidakhadiran yang diisi dopamin secukupnya untuk menjaga makna hubungan. Candu adalah ketidakhadiran makna yang digantikan dopamin berlebihan untuk menutupi kekosongan. Dan mungkin, bahwa tidak semua rasa yang menembus dada adalah cinta, dan tidak semua yang menempel di pikiran adalah rindu. Beberapa di antaranya hanyalah candu. Dan kita harus belajar membedakannya agar tidak tersedak di antara harapan dan keinginan yang salah arah. Maka berhati-hatilah pada rasa itu.

Pada akhirnya, manusia memang makhluk yang bodoh dalam urusan rasa. Otaknya dirancang dengan begitu kompleks untuk mencintai, namun juga begitu mudah untuk ketagihan pada apa yang dicintainya itu. Manusia terus mencari keseimbangan antara mengingat dan melepaskan, antara harapan dan penerimaan. Mungkin kuncinya bukan pada melupakan, melainkan memahami. Bahwa tak semua yang kita rindukan harus dimiliki, dan tak semua yang kita candui harus dilanjutkan. Ada saatnya berhenti bukan karena rasa itu padam, tapi karena kita memilih waras. Kebahagiaan bukan tentang siapa yang kita kejar, melainkan tentang bagaimana kita berdamai dengan kekosongan yang tersisa. Menerima segalanya, sebagaimana adanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *