Patilara dalah klub bola voli kebanggaan warga Ceko pada zamannya, sekitar awal sampai akhir dekade 90-an. Ceko adalah sebutan kekinian untuk Cotlamkuweueh. Setiap sore pemuda dan pemudi yang gemar olah raga akan menghabiskan waktu di lapangan voli yang bertempat tepat di sebelah rumahku. Hari tertentu untuk pemuda dan hari tertentu untuk pemudi. Sesekali ada pertandingan antar kampung juga yang tentu saja menarik perhatian warga kampung lainnya untuk menonton dan memberi dukungan kepada jagoannya.
Ada konflik yang sempat meruncing antara anggota klub ini dengan ayahku, dipicu oleh bola voli yang suka mendarat di atap rumah. Sampai suatu ketika Ayah memasang paku di atap yang berhasil mengempeskan beberapa bola voli, sebab sarannya agar dipasang pembatas tidak diindahkan. Meski demikian, aku masih juga sesekali ikut menonton. Mereka marah kepada Ayah, tapi tetap bersikap baik pada anaknya.
Beberapa remaja yang main voli di situ mengaji di tempat yang sama denganku. Di rumah Umi, isteri Abu (Pak Amat yang punya warung). Sore main, malam mengaji. Mereka tetap baik, tetap asik. Tidak pernah di depanku membahas masalah paku itu. Kadang saat aku tidak berani pulang karena harus melewati jalan dekat kuburan, mereka berbaik hati mengantarkan sampai ke pagar depan rumah. Mereka sungguh keren.
Tapi, ada juga orang yang pernah mengejek dan judes. Satu atau dua jumlahnya. Sangat sedikit, layak dilupakan saja. Mereka orang yang tidak bahagia, wajahnya tampak tua dan tidak bercahaya. Semoga saja masih ada kebaikan dalam hatinya.
Biasanya jika sore hari tidak kemana-mana, tidak ada les dan tidak merawat tanaman, aku duduk di balik jendela menonton voli sambil membantu ibu menjahit. Sekedar memasang kancing atau membelah lubang kancing.
Setelah lulus SMP aku sudah jarang menonton, sejak itu aku masuk ke sekolah asrama.
Akhir dekade 90-an grup ini bubar, karena di lapangan tersebut dibangun rumah oleh pemilik tanah.
