Orang Nyinyir

Sungguh tidak habis pikir, kenapa seseorang bisa menjadi nyinyir. Pernah ada yang berkata di belakang “Dokter spesialis kok begitu?”. Apa maksudmu? Yang lebih tak habis pikir adalah ada orang yang kemudian dengan senang meneruskan lagi nyinyiran itu. Sini dikasih paham. Berbicara di belakang itu artinya orang yang dibicarakan sudah lebih di depan. Kau tertinggal. Kenapa rupanya dengan dokter spesialis itu? Apakah malpraktik, apakah melanggar etika dan norma?

Bidang dokter spesialis itu tidak semua sama. Tidak semua perlu berinteraksi dengan manusia. Dokter spesialis yang menghabiskan waktu di laboratorium cukup berpakaian biasa-biasa, dilapisi jas lab, pakai APD; masker & handschoen. Tidak perlu cantik modis menor dan branded. Yang penting aseptik dan punya otak. Tentu saja di waktu lain bila ada rapat, presentasi, mengajar, dsb, ia akan menyesuaikan.

Menjadi dokter spesialis bukan perjalanan yang mudah, apalagi tanpa support orang tua. Sampai di titik ini merupakan pencapaian yang berharga. Kau sendiri, sudah sejauh mana pencapaianmu dalam hidup? Tugas sebagai dokter spesialis adalah tugas tambahan, tugas utamanya adalah menjadi orang tua. Kau punya anak? Paham kau bagaimana rasanya mengurus semuanya sendiri? Mengupayakan supaya anak-anak tetap sehat, tetap kenyang, makan bergizi, tidur nyenyak, dapat beribadah dan belajar dengan baik?

Anak-anak sesekali tantrum wajar, cuaca sesekali hujan dan dokter kebasahan karena naik motor ke RS juga wajar. Dokter tidak sering dandan, tidak pakai ootd branded juga wajar. Yang penting nyaman dengan diri sendiri. Mulutmu yang tidak wajar. Kenalpun tidak, komentar seperti pembawa acara olahraga. Kau tahu, sesederhanya dokter spesialis itu, pergaulan utamanya sesama profesor, konsulen dan dokter-dokter, mereka berdiskusi tentang perawatan pasien, mengajar mahasiswa, bukan menyinyiri orang lain. Komunikasi dan sikap mereka terhadap para petugas, cleaning service, security dan petugas parkir pun kurasa jauh lebih baik daripada orang-orang sepertimu.

Orang nyinyir ini mungkin terdengar lantang, tapi sering kali mereka adalah orang yang paling kesepian. Di balik setiap komentar pedasnya, mungkin ada hati yang cari perhatian. Di balik setiap sindirannya, mungkin ada harapan yang tak bisa dicapai. Teruskan saja nyinyiranmu bila itu satu-satunya yang membuatmu bahagia. Aku tidak suka kau dan nyinyiranmu. Aku memilih untuk tidak terlibat. Maaf, kita beda sirkel.

Herannya, orang-orang nyinyir ini bisa dijumpai di mana-mana. Di kolom komentar, obrolan warung kopi, lingkungan kerja. Mereka bukan hanya mengomentari apa yang tampak, tapi menyerang apa yang tidak sesuai dengan ekspektasi sempit mereka. Nyinyir bukan sekadar mengkritik. Kritik sendiri, sejatinya adalah seni melihat celah untuk diperbaiki. Kritik lahir dari kepedulian. Nyinyir lebih mirip bisikan sinis yang penuh dendam terpendam. Nyinyir menyerang pribadi, bukan gagasan. Nyinyir menyentuh rasa malu, bukan membangkitkan rasa sadar.

Orang yang nyinyir ini tidak benar-benar ingin membangun, tapi ingin menjatuhkan. Mereka senang melihat orang lain jatuh, bukan karena itu adil, tapi karena itu membuat mereka merasa lebih tinggi. Nyinyir adalah bentuk lain dari rasa tidak aman yang disamarkan dalam ironi dan sindiran. Di permukaan mungkin kelihatan cerdas, tapi seringkali hanya sebuah kebodohan bulus.

Tidak ada manusia yang terlahir sebagai penyinyir. Nyinyir muncul dari pengasuhan yang salah. Ia timbul dari iri yang tak terobati, dari hidup yang tak pernah cukup. Nyinyiran lahir dari ketidakberdayaan struktural. Orang-orang yang tertindas sering tidak mampu melawan sistem, lalu mengalihkan amarahnya ke sesama. Maka mereka nyinyir pada orang yang punya kelebihan, pada mereka yang tampil percaya diri, atau pada siapa saja yang tampak bahagia.

Orang nyinyir tidak sadar bahwa mereka sedang berteriak minta pengakuan. Mereka ingin diperhatikan, ingin dianggap tahu, ingin merasa lebih benar. Nyinyir adalah senjata murah meriah. Roasting lebih populer dibanding kebaikan dan empati. Perlahan, batas antara kecerdasan dan kekejaman menjadi kabur. Sebagian orang tumbuh dalam budaya yang kerap mengolok-olok sebelum mencoba memahami. Budaya ini mewariskan trauma antar generasi. Anak yang sering dinyinyiri akan tumbuh jadi orang dewasa yang nyinyir pula. Mereka tak pernah tahu bentuk komunikasi yang sehat. Mereka hanya tahu untuk bertahan, harus menyerang. Terus begitu sampai tua.

Orang yang jadi korban nyinyiran tidak mengalami luka fisik, tapi batin. Tak semua korban bisa melawan. Ada yang memilih diam, ada yang menyimpan marah dalam-dalam, ada pula yang berusaha membuktikan diri hingga kelelahan. Kadang, mereka lalu menjadi penyinyir berikutnya, karena merasa dunia tidak akan pernah adil kecuali mereka sendiri yang menciptakan ketidakadilan baru. Menghadapi orang nyinyir bukan perkara mudah. Membalas dengan nyinyir hanya membuat lingkaran racun berputar semakin cepat.

Kuncinya adalah kendali emosi. Orang nyinyir biasanya tidak kuat diserang dengan logika dan ketenangan. Mereka butuh respons emosional. Jika kita tidak memberi mereka itu, nyinyiran mereka akan mati sendiri. Selain itu, kita bisa memilih untuk menegur dengan halus. Kadang orang tidak sadar bahwa mereka sedang nyinyir. Teguran yang tidak memalukan bisa mengubah kebiasaan. Tapi jika nyinyirannya sudah jadi watak, maka jarak adalah cara terbaik. Kita tidak bisa menyembuhkan semua orang, tapi kita bisa memilih menjaga kewarasan diri sendiri.

Dunia butuh lebih banyak orang yang berani mendukung daripada merendahkan. Yang lebih tertarik membantu daripada menghakimi. Yang lebih suka bertanya daripada menyimpulkan. Menjadi antitesis dari orang nyinyir berarti tidak ikut arus sinisme. Kita bisa memilih untuk mengapresiasi. Kita bisa belajar diam jika tidak tahu, dan belajar bertanya jika belum paham. Orang tulus sering tampak aneh, tapi mereka adalah manusia langka dan berharga. Karena hidup ini sudah cukup sulit tanpa harus saling menjatuhkan. Karena setiap orang sedang berjuang dengan caranya masing-masing. Karena kita tak pernah tahu seberapa keras seseorang sedang berusaha. Kita tidak harus menyukai semua orang, tapi kita bisa memilih untuk tetap santun dan tidak melukai dengan kata-kata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *