Vena Punksi Perdana

“Wil,aku pusing Wil.. Wil, pusing kali aku ni..” Awalnya kupikir tidak sungguhan, tapi dia makin letoy bersandar di meja kerja lab. Waduh, gimana ya. Aku bingung sendiri, melihat **o yang makin pucat. Lalu, gubrakk. Dia pun jatuh ke lantai. Pingsan.

Saat itu kami sekelas sedang praktikum PK tentang Vena Punksi di Lab Biokimia FK. Aku dan **o sekelompok. Sebelum pingsan, baru saja kuambil 3 cc darah **o menggunakan jarum suntik dari lengan kanannya.

Segera bala bantuan teman-teman datang, **o digotong ke ruang laboran. Komando dipegang sama Bang Mu**di, Laboran yang mendampingi kami praktikum. Aku panik, sambil terus mengipasi wajah **o. Sang probandus Vena Punksi perdanaku. Dalam hati menangis “**ooo, cepatlah banguun, jangan matiii. Kalau Qe mati, aku nggak mau lagi jadi dokteer”.

Tidak berapa lama kemudian kesadaran **o kembali. Selanjutnya ia disuguhi teh manis dan disuruh istirahat dulu oleh Bang Mu**di. Alhamdulillaah… Hati ini sungguh bersyukur dan bahagia. Benar kata orang, bahagia itu sederhana. Sesederhana **o kembali membuka mata.

Praktikum dilanjutkan kembali setelah itu.

Cerita di atas berdasarkan kisah nyata.

Vena Punksi adalah suatu prosedur pengambilan sampel darah untuk berbagai pemeriksaan seperti mengukur jumlah sel atau zat-zat tertentu yang terlarut di dalamnya.

Tantangan dalam melakukan prosedur ini antara lain berupa kesulitan dalam mengidentifikasi pembuluh darah secara visual oleh operator. Sebagai efek samping, sebagian pasien dapat mengalami rasa sakit, perdarahan di bawah kulit, kegelisahan, ataupun kolaps.

Kolapsnya pasien berkaitan dengan cedera pada saraf perifer selama punksi vena yang selanjutnya dapat disertai dengan perubahan warna kulit, suhu, dan disfungsi saraf otonom.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *