Dia masih ada

Mereka yang mati, tak pernah sungguh-sungguh mati. Sebagaimana mereka yang hadir, tak pernah sungguh-sungguh ada. Kehidupan dan kematian ternyata bukan sekadar hadir atau tiada, melainkan soal bagaimana jiwa manusia dapat menyentuh ruang di sekitarnya. Mereka yang mati mungkin saja tetap hidup dalam kenangan. Dan, mereka yang hadir namun tak ada, akan menjadi pelajaran tentang nilai kehadiran. Dan dia, masih belajar untuk bertahan hidup di antara semua itu.

Ada yang pergi, namun meninggalkan gema dalam setiap langkah. Ada yang di sini, namun hanya membawa hampa yang tak mampu diisi oleh doa-doa. Dia di sini, hanya bayangan tak bisa bicara. Kata-katanya hanya bisik memantul di dinding tanpa kembali. Dia hadir, terlihat, namun tak nyata.

Dia menulis agar tidak hilang. Tulisan demi tulisan akan menjadi satu-satunya bukti bahwa dia pernah ada. Dia menulis agar kesunyian ini memiliki bentuk. Agar perasaan yang tak terlihat memiliki warna. Kata demi kata menjadi teman, lebih nyata daripada suara yang tidak pernah menanggapi. Dia menulis agar dirinya tidak hilang di antara mereka yang berjalan di dunia bak boneka, tanpa hati.

Saat dunia terdiam, dia menulis ini. Saat dia dapat mendengar detak jantungnya sendiri. Saat dia dapat mendengar gema napasnya sendiri. Dia menulis agar sepi ini bisa diucapkan. Kata-kata menjadi pelukan, meski hanya untuk dirinya sendiri, namun tetap nyata dan menghangatkan. Karena meski sepi, dia masih ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *