Kemeja Biru

Bila warna adalah angka, maka biru adalah modusnya. Warna yang paling sering muncul. Ia bahkan ada di beberapa judul lagu dan buku. Warna ini tampaknya banyak disukai orang.

Ada seorang teman yang dulu selalu pakai baju biru. Kemeja. Jika diamati sepintas seperti orang yang tak pernah ganti baju. Padahal mungkin isi lemarinya kemeja biru semua. Tapi belakangan kulihat di medsos dia sudah meninggalkan kebiasaannya itu. Sekarang dipakainya baju hitam dan peci. Curiga aku Bang. Apakah Kau mulai botak sekarang?

Kami mulai berteman sudah lama sekali dan sudah belasan tahun tidak pernah jumpa. Sebelum tsunami dulu ia beberapa kali ke rumah. Kenal baik dengan (almh) ibuk dan (alm) ayah.

Saat berkunjung ke rumahku lebaran terakhir sebelum musibah itu, menjelang siang tepat setelah cake jagung matang. Apakah masih Kau ingat rasanya Bang? Manis, lembut dan masih panas. Kau tau Bang, itulah kali terakhir aku buat kue itu. Setelah itu tak pernah kubikin lagi. Mungkin nanti. Harus belajar dari awal lagi, sudah lupa pula aku bagaimana bikinnya.

Waktu tsunami itu kudengar kabar ia pergi memeriksa jasad-jasad korban, mencari orang-orang yang mungkin dikenalinya. Dia begitu lega saat melihat rumanku masih berkeliaran di daerah Darussalam. Respons pertamanya saat melihatku kali itu adalah mengucap syukur “Alhamdulillaah”.

Bersama beberapa teman, dia mengumpulkan baju layak pakai untuk diberikan kepadaku. Diantaranya tentu saja ada kemeja biru. Kupilih beberapa selain yang itu. Ada kupakai Bang baju-bajunya.

Waktu aku sakit-sakitan dia rutin mengantarkan telur ayam kampung. Konon itu adalah telur ayam peliharaan adiknya. Telur-telur itu direbus oleh tanteku, ada juga kumakan Bang. Pernah juga ia membereskan urusan pajak motor, tugas kuliah dan entah apalagi. Terimakasih yaa sudah banyak membantuku dalam masa sulit.

Semoga Allah SWT mencurahkan banyak kebaikan atasmu. Semoga Kau sekeluarga sehat sejahtera dan bahagia selalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *