Masa itu, di kampungku belum ada listrik. Setiap malam menjelang, tupoksi bapak-bapak (dan abang-abang) menyalakan lampu petromak. Tupoksiku, ke warung Pak Amat membeli spiritus sebagai bahan bakarnya. Atau sesekali membeli lampunya yang seperti kain itu bila yang lama sudah hancur. Kami tinggal di Lampoh Bungong, dekat Blang Raya (sawah besar). Gampong Cotlamkuweueh, Meuraxa.
Beberapa kali, dari jalan yang membelah Blang Raya, saat malam kami berdiri menghadap ke utara setentang Jalan Sultan Iskandar Muda. Pemandangan ajaib yang tidak akan terlupakan bagiku. Ribuan cahaya kunang-kunang di bawah kelap kelip jutaan bintang. Pemandangan menakjubkan. Meski belum sekolah, saat itu aku sudah diajari mengenal rasi bintang biduk yang menyerupai gayung bergagang kurus dan bengkok itu, rasi kalajengking dan beberapa rasi lainnya yang sudah kulupakan sekarang.
Masa itu, saat listrik adalah barang mewah, ada banyak sekali kunang-kunang di kampungku. Setiap malam mereka bahkan bisa tersasar masuk ke rumah panggung nenek. Aku masih ingat pernah beberapa kali menangkapnya dalam genggaman. Melihat nyala kehijauan dari perutnya itu. Nyala, redup, hilang, menyala lagi. Begitu seterusnya. Lalu melepaskannya kembali dari ampeut (teras) rumah panggung itu, untuk kembali ke ribuan kawanannya penghuni sawah.
Hingga suatu hari listrik mengalir ke kampungku. Selepas rutinitas magrib, mengaji dan isya, bapak-bapak dan abang-abang mulai rutin berkumpul di rumah yang ada televisi untuk menonton siaran dunia dalam berita di TVRI. Sesekali mereka lanjut menonton pertandingan tinju hingga tengah malam ditemani kopi dan pisang goreng. Acara favorit kaum ibu adalah film Oshin. Waktu itu belum semua rumah punya televisi dan televisinya pun masih hitam putih. Seiring waktu, rumah-rumah semakin terang, sudah punya televisi berwarna, lampu jalan pun semakin banyak terpancang.
Pembangunan yang dibutuhkan, namun berdampak pada siklus hidup makhluk kecil, kunang-kunang. Entah kapan, entah bagaimana caranya, akhirnya kunang-kunang benar-benar menghilang dan bintang-bintang tidak lagi benderang.
Di kampungku sekarang, kunang-kunang sudah punah.
