Lasegue Sign

Seorang konsulen neurologi pernah emosi pada seorang dokter muda (DM) di depan pasien dan keluarganya karena saat visite pagi si DM belum tahu cara pemeriksaan tanda Lasegue.

Saat itu kondisi sungguh berbeda, sistem kuliah di Fakultas kedokteran (FK) belum menggunakan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Belum ada skills laboratory. Belum ada pula dokter residen neurologi.

Sekelompok 5 orang dokter muda yang baru menjalani Kepaniteraan Klinik Senior (KKS), yang belum pernah stase di bagian rawat inap masuk ke bagian neurologi tanpa senior. Rotasi terakhir mereka minggu sebelumnya adalah di bagian ilmu kesehatan jiwa. Masing-masing mereka harus mem-follow up 7 sampai 8 orang pasien.

Senin pagi, tiba waktu visite, giliran si DM melaporkan pasiennya. Ia ditanya bagaimana cara melakukan prosedur Lasegue dan dia tidak bisa menjawab. Konsulen tersebut marah, mengomel dengan logat Batak-nya dan memukulkan stetoskopnya ke tumpukan status yang dibawa si DM. Si DM diultimatum akan disuruh keluar dari jendela. Akhirnya dia benar-benar disuruh keluar ruangan tersebut, dengan rasa malu dan rasa bersalah, keluar melalui pintu.

Hari minggu kemarin tidak sempat ia belajar. Seharian ia berkeliling kota, lalu melihat gunung dan pantai. Kemarin dia benar-benar berlibur.

Ahh.. Pagi senin itu sungguh terlalu..

DM itu masuk ruang jaga, duduk sendiri menunggu visite selesai. Tidak lama kemudian, pintu diketuk. Saat membukanya, seorang anak perempuan berkata ke si DM, “Kak, dipanggil Bapak”. Ia adalah anak dari pasien tadi, kita sebut saja Pak Zul. Si DM bergegas ke bed Pak Zul. Rombongan visite sudah berpindah ruangan.

Beliau ini adalah pasien dengan diagnosis Low Back Pain (LBP), perawakan tinggi besar dan berkulit coklat. “Bagaimana Pak? Apa ada keluhan?”.. “Tidak ada apa-apa, Nak. Saya kaget tadi kamu dimarahi.”.. “Salah saya juga Pak, belum belajar.” … “Kamu jangan patah semangat ya, terus berusaha, belajar yang rajin …(dan seterusnya).” Pak Zul memberikan petuah dan semangat untuk DM itu, walau ia sendiri sedang terbaring lemah tidak bisa jalan.

Lasegue ini adalah salah satu di antara teknik pemeriksaan lainnya yang umum dilakukan pada bagian neurologi. Prosedur pemeriksaan ini bertujuan untuk mencetuskan nyeri pada daerah pinggang bawah yang dirangsang dengan mengangkat kaki dalam posisi lurus. Bila didapatkan tahanan atau rasa nyeri sebelum tungkai mencapai sudut 70 derajat (terhadap posisi mendatar) maka tanda lasegue dinyatakan positif.

Sekarang ini si DM telah menjadi dosen di FK. Hari ini ia bertugas mengajarkan keterampilan Pemeriksaan Tanda Rangsang Meningeal dan Pemeriksaan Nyeri Pinggang Bawah kepada mahasiswa. Skill ini membuatnya terkenang pada peristiwa lampau, terutama Pak Zul yang baik hati. Bapak itu terakhir kali dilihatnya saat beliau keluar rumah sakit (KRS), berjalan dengan alat bantu jalan dan melambaikan tangan padanya yang berdiri di depan ruang rawat neurologi RSUDZA lama.

Terimakasih Pak Zul..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *